BAB III LAPORAN PENELITIAN

BAB III
LAPORAN PENELITIAN
Dalam BAB ini akan disampaikan laporan tentang hasil penelitian yang telah dilakukan di MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi. Laporan Penelitian ini berisi tentang Latar Belakang Objek, Penyajian Data, dan Analisis Data.
A. Latar Belakang Obyek Penelitian
1. Sejarah Singkat Berdirinya MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi
MTs. Nadlatul Wathon merupakan salah satu sekolah yang berkedudukan di daerah Banyuwangi, Kecamatan Licin Desa Licin. Keberadaan MTs. Nahdlatul Wathon dapat dikatakan sebagai representasi dari gagasan dan hasrat kuat umat islam untuk turut berpartisipasi dalam mengemban amanat tranformasi social bangsa menuju perwujudan “Masyarakat adil makmur materiil dan spiritual” melalui jalur pendidikan.
MTs. Nahdlatul Wathon didirikan pada tanggal 17 Juli 1983 oleh lembaga pendidikan Nahdlatul Wathon dan dibawah naungan lembaga pendidikan Ma’arif cabang Banyuwangi. Dalam perjalanannya MTs. Nahdlatul Wathon telah melakukan 4 kali bergantian kepala sekolah. Sebagai kepala sekolah pertama adalah Drs. Mudzakkir, kemudian digantikan oleh kepala sekolah kedua yaitu Bpk. Imam, setelah selesai masa tugas kemudian digantikan oleh kepala sekolah yang ketiga yaitu Bpk. Sulhan, selanjutnya berganti lagi sebagai kepala sekolah yang keempat yaitu Bpk. Huldi, S.Ag hingga sekarang. Adapun maksud dan tujuan didirikanya Madrasah ini adalah mendidik para siswa-siswi agar menjadi insan yang memiliki iman dan taqwa (IMTAQ) dan berilmu pengetahun (IPTEK) yang seimbang, cerdas, terampil, dan berakhlakul karimah.
2. Profil Sekolah
1. Nama Sekolah : MTs. Nahdlatul Wathon
2. Alamat : Jl. Raya Licin No. 03
Desa : Licin
Kecamatan : Licin
Kabupaten : Banyuwangi
3. Nama Yayasan : Yayasan Pendidikan Dan Sosial Nahdlatul Wathon
4. Status Sekolah : Terakreditasi B
5. Sk Kelembagaan : Departemen Agama Nomor : B/Kw.13.4/MTs/111
6. NSS/NIS : 212 35 10 16 048/210500
7. Tipe Sekolah : A/B/C/D
8. Tahun Didirikan/Beroperasi : 1983
9. Status Tanah : Sertifikat
10. Luas Tanah : 5910 M2
11. Nama Kepala Sekolah : Huldi, S.Ag.
12. No. SK Kepala Sekolah : 04/YPNW/IV/2000 Tanggal 24 April 2000
13. Masa Kerja Kepala Sekolah : 7 Tahun 4 Bulan
3. Letak Geografis
MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi terletak di Desa Licin Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi. Lokasi ini berada di sekitar Yayasan Pendidikan Nahdlatul Wathon . Dari jalan raya Licin–Banyuwangi ke utara ± 2 m, dengan batas-batas sebagai berikut :
a. Batas Utara : Sungai
b. Batas Timur : Madrasah Aliyah
c. Batas Barat : Perkampungan Rumah Warga
d. Batas Selatan : Jalan Raya
4. Struktur Organisasi
Struktur organisasi merupakan struktur yang menggambarkan pembagian tugas (job discription) dalam suatu organisasi. Struktur organisasi yang ada di MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi adalah sebagai berikut :

STRUKTUR ORGANISASI
MTs. Nahdatul Wathon Licin Banyuwangi
Tahun Pelajaran 2008-2009

5. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan alat bantu suksesnya proses pembelajaran dan sebagai penunjang dalam meningkatkan kompetensi belajar siswa.
Sarana dan prasarana yang ada di MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1
Data Sarana dan Prasarana
MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi
Tahun Pelajaran 2008-2009
No Jenis Sarana Prasarana Jumlah Kondisi
Baik RR RB
1. Ruang Kelas 6 2 2 2
2. Lab. IPA – – – –
3. Lab. Komputer 1 – – –
4. Ruang Perpustakaan – – – –
5. Ruang Tata Usaha 1 1 – –
6. Ruang Kepala Sekolah 1 1 – –
7. Ruang Guru 1 1 – –
8. Ruang Ibadah 1 1 – –
9. Kamar Mandi/WC Guru 1 1 – –
10. KM/WC Siswa Putra 1 – 1 –
11. KM/WC Siswa Putri 1 – 1 –
12. Pos Jaga/Parkir 1 1 – –
13. Lapangan Olah Raga 1 1 – –
Sumber data : Dokumen MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi
Tahun Pelajaran 2008-2009

6. Data Fasilitas penunjang yang lain
a. Alat Penunjang KBM
Tabel 3.2
Data Alat-Alat Penunjang KBM
No Jenis Alat
Peraga Jml Kondisi
Baik RR RB
1. B. Indonesia 2 2 – –
2. Matematika 1 1 – –
3. Fisika 5 5 – –
4. Biologi 4 4 – –
5. IPS 4 4 – –
6. B. Inggris 2 2 – –
7. B. Arab 3 3 – –
8. Fiqih 3 3 – –
9. Aqidah Akhlaq 3 3 – –
10. SKI 3 3 – –
11. Al Qur’an hadits 3 3 – –
b. Alat Mesin Kantor
Tabel 3.3
Data Alat-Alat Mesin Kantor
No Jenis Alat
Peraga Jml Kondisi
Baik RR RB
1. Mesin Ketik 1 – 1 –
2. Filing Kabinet – – – –
3. Komputer 2 2 – –
7. Data Guru dan Siswa
a. Jumlah Guru
Tabel 3.4
Data Jumlah Guru dan Pegawai
Tipe Guru Jumlah Guru
1. Pegawai Negeri Sipil 1
2. Guru Tetap Yayasan 13
3. Guru Tidak Tetap –
4. Guru Kontrak Pusat –
5. Guru Kontrak Lokal –
Untuk lebih jelasnya tergambar pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.5
Data Pimpinan dan Guru
MTs. Nahdlatul Wathon Lcin Banyuwangi
Tahun Pelajaran 2008-2009

NO NAMA GURU STATUS BID. STUDI
1. Huldi, S.Ag. Ka. Sekolah –
2. M. Bakri, A.Ma GTY Matematika
3. Siti Mutmainah, S.Ag. GTY Fiqih, SKI, B. Jawa
4. Wiwit Agustini, S.Ag. GTY IPS, PKN, TIK
5. Sutiasih, A.Ma. GTY IPA
6. Sutik Tutiani, S.Pd. PNS B. Indonesia
7. Sulastri, A. MA. Pd. GTY IPS
8. Ach. Syafaat, S.HI. GTY Aqidah Akhlak
9. M. As’Ari GTY KTK, Aswaja, SB
10. U.F. Rinjani, A.Ag. GTY Al-Qur’an-Hadits
11. K. Ach. Bujairimi GTY B. Arab
12. Helmiyanto, S.Pd. GTY B. Inggris
13. Abd. Hamid, A. Ma. Pd. OR. GTY Olah Raga
14. Mauris HR, S. Kom GTY TIK
Keterangan : GTY : Guru Tetap Yayasan
GTTY : Guru Tidak Tetap Yayasan
Sumber data : Dokumen MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi
Tahun Pelajaran 2008 – 2009

Tabel 3.6
Data Guru dan Karyawan
MTs. Nahdlatul Wathon Lcin Banyuwangi
Tahun Pelajaran 2008-2009 Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Jabatan Pendidikan Jumlah Total
SD MTs SMA D.S D.3 S.1 L P
1. Ka. Madrasah – – – – – 1 1 – 1
2. Guru – – 3 3 – 7 8 5 13
3. Staf – – – – – – – – –
4. Pustakawan – – – – – – – – –
5. Kebun 1 1 – – – – 1 1 2
Jumlah 1 1 3 3 – 8 10 6 16

b. Perkembangan sekolah 4 tahun terakhir
Tabel 3.7
Data statistik perkembangan
MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi

Tahun
Pelajaran Siswa
Pria Wanita Total
2004/2005 98 97 195
2005/2006 108 98 206
2006/2007 103 128 231
2007/2008 103 126 229
8. Keadaan Siswa
Siswa yang belajar di MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi, sebanyak 205 siswa yang tersebar dalam 3 kelas yaitu, kelas VII, kelas VIII, kelas IX, masing-masing kelas, dikelompokkan dalam 2 kelas, yaitu kelompok Putra dan kelompok Putri, sebagaimana tercantum dalam tabel berikut :
Tabel 3.8
Data Siswa – Siswi
MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi
Tahun Pelajaran 2008-2009

No Keadaan Siswa – Siswi Jumlah
Total
Kelas Putra Putri
1. VII A 14 18 32
VII B 13 16 29
2. VIII A 18 15 33
VIII B 19 16 35
3. III A 12 26 38
III B 13 25 38
Jumlah 89 Siswa 116 Siswa 205 Siswa
Sumber data : Dokumen MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi
Tahun Pelajaran 2008 – 2009
9. Visi, dan Misi, MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi
Sebagai suatu lembaga edukatif yang dinamis dan dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan segala kondisi, MTs. Nahdlatul Wathon Licin memiliki Visi dan Misi.
a. Visi MTs. Nahdlatul Wathon Licin
“Membentuk Generasi Teguh Yang Beriman, Berilmu Dan Berakhlakul Karimah”,
b. Misi MTs. Nahdlatul Wathon Licin
a. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga setiap siswa berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki.
b. Terbentuknya SDM yang mampu bersaing positif dimasyarakat.
c. Mengoptimalkan pendidikan agama islam.
d. Menumbuhkan dan membiasakan siswa-siswi berakhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
B. Penyajian dan Analisis Data
1. Kepemimpinan Kepala MTs. Nahdlatul Wathon dalam Peningkatan Kualitas Lulusan
Kunci keberhasilan kepemimpinan pada hakikatnya berkaitan dengan tingkat kepedulian seorang pemimpin terlibat terhadap komponen-komponen yang ada di lembaga, komponen-komponen itu seperti guru, staf, siswa, dan komponen yang berkaitan terhadap peningkatan kualitas lulusan serta kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan di sekolah. Untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sekaligus agar dapat menggerakan dan memotivasi orang-orang yang terlibat dalam institusi tersebut, maka diperlukan adanya suatu kepemimpinan.
Berbicara mengenai kepemimpinan yang ada di MTs. Nahdlatul Wathon Licin Banyuwangi terhadap peningkatan kualitas lulusan di lembaga tersebut dalam menjalankan roda kepemimpinan, kepala sekolah di MTs membangun rasa kekompakkan dan royalitas sesama guru, staf dan para karyawan guna untuk mencapai keberhasilan sekolah bersama. Kepala sekolah juga membangun rasa kekeluargaan yang tujuannya menghindari rasa kekakuan diantara atasan dan bawahan, apabila kepala sekolah mampu menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan anggota secara tepat, segala kegiatan yang ada dalam organisasi sekolah akan bisa terlaksana secara efektif. Sebaliknya, bila tidak bisa menggerakkan anggota secara efektif, tidak akan bisa mencapai tujuan secara optimal.
Perilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara oleh salah satu guru bidang study B. Arab, yaitu Bapak. Mujairimi, bahwa :
Kepemimpinan kepala sekolah di MTs. Nahdlatul Wathon memiliki prilaku arif, bijak dan mempunyai rasa tanggung jawab yang konsisten dalam memimpin sekolah ini, kepala sekolah tidak pernah bersikap tertutup namun selalu bersikap terbuka, baik dengan guru maupun staf dan karyawanya.
Begitu juga tidak luput dari penilaian siswi kelas VIIa yaitu Khomsatin Amaliyah yang menyatakan bahwa: “Kepemimpinan Kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon sekarang sangat disiplin terhadap kegiatan apapun di Madrasah ini, dan beliau tidak mementingkan kepentingan sendiri tetapi mementingkan semua warga sekolah.”
Senada dengan pernyataan diatas, Bapak M. Bakri, A.Ma selaku guru senior di MTs. Nahdlatul Wathon juga menyataan bahwa : “Untuk mencapai keberhasilan kepala sekolah dalam memimpin suatu lembaga, seorang pemimpin harus memiliki sikap jujur, mementingkan golongan dari pada kepentingan pribadi, dan mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi.”
Perilaku positif kepemimpinan kepala sekolah MTs. juga tidak hanya di tunjukkan cuma kepada guru, kaitanya dengan peningkatan kualitas lulusan kepala sekolah selalu memberikan dorongan terhadap siswa agar belajar giat dan selalu memberikan himbauan agar mempertahankan dan meningkatkan prestasi yang diraihnya dengan meningkatkan belajarnya serta kepala sekolah juga menganjurkan kepada siswa untuk ikut aktif dalam kegiatan yang telah disediakan oleh lembaga seperti les tambahan (Remedial) dan ekstrakurikuler yang menunjang terhadap prestasi siswa.
Peneliti juga memperoleh statement terhadap kepemimpinan kepala sekolah di MTs tentang perbandingan antara kepemimpinan sebelumnya dengan kepemimpinan yang sekarang, kepemimpinan kepala sekolah sekarang lebih baik dibanding dengan kepemimpinan sebelumnya terbukti dengan perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan seperti pembangunan gedung sekolah, penambahan fasilitas ruang belajar serta ruang sarana prasarana seperti ruang komputer dan ruang perpustakaan, dan peningkatan input siswa yang semakin banyak serta penambahan-penambahan kelas, asalnya satu kelas sekarang berubah menjadi 2 kelas. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di MTs memperoleh keberhasilan dalam memimpin lembaga yang di pimpinnya.
Dalam memberdayakan kualitas sumber daya manusia yaitu siswa, kepemimpinan kepala sekolah di MTs juga berperan aktif terkait dengan peningkatan mutu lulusan seperti telah dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan. Hal ini dapat dilihat dari diadakanya pelatihan-pelatihan kepada para tenaga pengajar (guru) tentang pembelajaran yang mengarah pada keaktifan siswa dan mengembangkan potensi serta kreatifitas siswa, dan juga kepala sekolah sering mengadakan jam tambahan sekolah (remedial) serta mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada kerohanian seperti istigosah dan sholat dhuha bersama-sama.
Lebih intern lagi kepala sekolah mengupayakan peningkatan kualitas lulusan melalui guru, dengan cara mengadakan pelatihan-pelatihan, memantau kinerja guru (supervisi), selalu memberikan kebebasan kepada guru untuk berinisiatif selama tidak lepas dari koridor dan kepala sekolah bersikap korektif terhadap bawahan yaitu guru dan para stafnya serta mengadakan rapat bulanan yang tujuannya evaluasi terhadap kinerja masing-masing guru. Selain upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan melalui guru kepala sekolah juga memperhatikan keadaan siswa, dengan cara pemupukan terhadap anak didik melalui remidi dan trayout serta kegiata-kegiatan yang mengarah terhadap peningkatan mutu lulusan itu sendiri.
Jika kita amati lebih jauh tentang kepemimpinan kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon untuk mencapai peningkatan kualitas lulusan, yang menjadi tolok ukur atau kebijakan terkait dengan peningkatan kualitas lulusan kepemimpinan kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon menitik beratkan terhadap standar kelulusan siswa yaitu danem atau 100% siswa lulus dan memperoleh danem baik maka kepemimpinan kepala sekolah dikatakan berhasil dalam melakukan tugas-tugas sebagai kepala sekolah atau pimpinan di lembaga tersebut. Pernyataan ini sejalan dengan apa yang telah dikatakan oleh responden kami yaitu kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon Licin Bapak Huldi, S.Ag. yang menyatakan bahwa : “Yang menjadi tolok ukur terhadap peningkatan kualitas lulusan di sekolah tidak lain ialah nilai tertinggi standar kelulusan yaitu mencapai 100 %.”
Dalam upaya menggerakkan dan memotivasi orang lain (guru, staf dan siswa) agar tindakan-tindakan kepemimpinan kepala sekolah terarah pada pencapaian tujuan, seorang pemimpin harus melakukan dalam beberapa cara. Cara yang ia lakukan merupakan pencerminan sikap serta gambaran tentang tipe (gaya) kepemimpinan yang dijalankannya. Adapun gaya atau tipe kepemimpinan yang digunakan oleh kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon Licin yaitu Gaya Open Management atau Demokrasi. Gaya ini menunjukkan bahwa hubungan antara pimpinan dan orang-orang dipimpin atau bawahannya diwujudkan dalam bentuk human relationship atas dasar prinsip saling harga menghargai dan hormat menghormati. Dalam melaksanakan tugasnya, pemimpin demokratis mau menerima dan bahkan mengharapkan pendapat dan saran-saran dari bawahannya, juga kritik-kritik yang membangun dari anggota diterimanya sebagai umpan balik atau dijadikan bahan pertimbangan kesanggupan dan kemampuan kelompoknya.
Mencermati uraian di atas bahwa pemimpin yang bertindak demokratis itu memiliki sifat kooperatif, suka bermusyawarah, dan senang bertanya kepada anggota tentang hambatan atau sarana yang diperlukan bagi kelancaran tugas yang telah diberikan kepada mereka. Lebih penting lagi bahwa tipe kepemimpinan yang demokratis ini leih dekat dan terkait dengan sikap tidak keras dan kasar, tetapi justru senag bersikap lemah-lembut atau humanis dalam menegakkan aturan dan/atau di dalam memberikan perintah kepada bawahanya. Hal ini sesuai dengan pendapat dari salah satu guru yaitu Bapak M. Bakri selaku guru bidang study matematika yang mengatakan bahwa : “Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas kepemimpinan kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon menggunakan gaya-gaya kepemimpinan, yaitu gaya open management, gaya up to date (mengikuti arus perkembangan), dan gaya moderat/Modern (berpikir maju)”.
Menelaah tentang gaya kepemimpinan yang dijalankan oleh kepala MTs. Nahdlatul Wathon Licin terkait dengan pengembangan sumber daya manusia yaitu siswa, maka untuk lebih jelasnya mengambil dari pendapatnya Danim dalam bukunya yang berjudul Visi Baru Manajemen Sekolah, merumuskan bahwa : “Kepemimpinan demokrasi adalah kepemimpinan yang dilandasi oleh anggapan bahwa hanya karena interaksi kelompok yang dinamis, tujuan organisasi akan tercapai”.
Tipe kepemimpinan semacam ini memiliki pribadi yang terbuka. Dia mau menerima masukan dan kritik dari anggotanya. Sekaligus bersikap supportif dan mendukung apa yang menjadi ide atau usul anggota, selama ide itu ditujuan untuk kemajuan lembaga. Untuk menumbuhkan iklim yang harmonis, pemimpin ini juga memperhatikan kebutuhan bawahan atau kesejahteraannya.
Dalam mengambil suatu keputusan, pemimpin yang demokratis akan mengedepankan prinsip musyawarah dengan orang-orang yang ada dalam tanggungjawabnya. Bahkan tidak akan mengambil suatu keputusan hanya didasarkan atas pendapat seorang saja (oleh karenanya ia disenangi, mau menjaga rahasia dirinya atau membela mati-matian saat diserang oleh lawab atau rivalnya).
Untuk lebih jelasnya lagi dibawah ini diuraikan tentang ciri-ciri pemimpinan demokratis, gaya pemimpin yang bersikap demokratis ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Beban kerja organisasi menjadi tanggung jawab bersama personalia organisasi.
b. Bawahan, oleh pimpinan dianggap sebagai komponen pelaksana dan secara integrasl harus diberi tuga dan tanggung jawab.
c. Disiplin, tetapi tidak kaku dan memecahkan masalah secara bersama.
d. Komunikasi dengan bawahan bersifat terbuka dan dua arah.
Gaya kepemimpinan demokrasi ini pun terdapat dua macam, yaitu demokrasi tulen, yaitu yang mempunyai sifat, mau mendengarkan masukan dari bawahan, menekankan tanggungjawab, dan kerjasama yang baik pada setiap anggota (bawahan), serta demokrasi palsu yang mempunyai sifat berusaha untuk menjadi demokratis. Kedemokratisannya tergantung pada emosi dan banyaknya beban pikiran (masalah) yang dihadapi.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa kepemimpinan sebagai proses menciptakan visi, mempengaruhi sikap, prilaku, pendapat, nilai-nilai, norma dan sebagainya dari pengikut untuk merealisasikan visi. Disini jelaslah, bahwa kepemimpinan merupakan suatu proses bukan sesuatu yang terjadi seketika. Pendidikan merupakan bagian penting dari proses peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), di mana kecakapan dan kemampuan dinyakini sebagai faktor pendukung upaya manusia dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian. Dalam kerangka inilah kepemimpinan kepala sekolah diperlukan dan dipandang sebagai kebutuhan dasar serta kunci keberhasilan sekolah dalam rangka peningkatan kualitas lulusan.
Kepemimpinan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan terhadap para anggota kelompok. Definisi ini mengandung tiga implikasi penting, yaitu (1) kepemimpinan itu melibatkan orang lain baik itu bawahan maupun pengikut, (2) kepemimpinan melibatkan pendistribusian kekuasaan antara pemimpin dan anggota kelompok secara seimbang karena anggota kelompok bukanlah tanpa daya, (3) adanya kemampuan untuk menggunakan berbagai bentuk kekuasaan yang berbeda-beda untuk mempengaruhi tingkah laku pengikutnya dengan berbagai cara.
Berbicara tentang kualitas lulusan dalam koridor lingkungan sekolah, maka siapakah orang yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan kualitas ini ? jika merunut jawaban secara global, maka tiap instansi dan individu di lingkungan sekolah itu bertanggungjawab atas kualitas lulusan di sekolah. Namun jika kita harus menyebut nama, pihak yang paling bertanggungjawab atas kelangsungan kualitas lulusan di lingkungan sekolah, maka orang itu adalah kepala sekolah.
Kepala sekolah pada dasarnya adalah pemimpin. Ia adalah pemimpin bagi guru, pegawai non guru dan anak didik. Ini membawa implikasi bahwa kehadiran dirinya di sekolah merupakan figure yang menjadi panutan sekaligus penentu keberhasilan sekolah. Kepala sekolah menjalankan kepemimpinannya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Untuk itu kepala sekolah diharapkan mampu memancing motivasi, menggerakkan dan mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan pendidikan menentukan keberhasilan sekolah mencapai tujuannya. Keberhasilan kepmimpinan sekolah akan membawa keberhasilan pula dalam pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Ini mengandung pengertian bahwa kepala sekolah memegang kunci keberhasilan sekolah.
Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah. Studi keberhasilan kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah adalah seseorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah.
Keberhasilan tujuan pendidikan di sekolah tidak terlepas dari peranan kepala sekolah, pernyataan ini diperkuat oleh pendapatnya Wahjosumidjo, yang menyatakan bahwa :
Pentingnya peranan kepala sekolah dalam menggerakkan kehidupan sekolah mencapai visi, misi dan tujuan. Menurutnya ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu : Pertama, Kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah. Kedua, Kepala sekolah harus memahami tugas dan fungsi mereka demi keberhasilan sekolah, serta memiliki kepedulian kepada staf dan siswa.
Menurut Sallis, dalam bukunya Syafaruddin yang berjudul Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, ada beberapa peranan utama pemimpin pendidikan dalam mengembangkan kultur (budaya) mutu, yaitu :
a. Memiliki visi yang jelas mengenai mutu terpadu bagi organisasinya.
b. Memiliki komitmen yang jelas terhadap perbaikan mutu.
c. Menjamin bahwa kebutuhan pelanggan menjadi pusat kebijakan dan pekerjaan organisasi.
Kepemimpinan kepala sekolah di MTs. Nahdlatul Wathond dalam peningkatan kualitas lulusan adanya strategi atau langkah yang dijalankan yaitu melalui pengembangan kualitas guru dengan mengadakan kegiatan-kegiatan semacam pelatihan dan workshop. Perhatian khusus terhadap prestasi siswa melalui les tambahan (remedial) dan lain-lain. Berdasarkan hal tersebut sejalan dengan pendapatnya Mulyasa, dalam bukunya yang berjudul Menjadi Kepala Sekolah Profesional menyebutkan beberapa strategi atau langkah-langkah terkait dengan kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas SDM yaitu strategi umum dan strategi khusus. Lebih jelasnya pendapat tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
(1) Strategi Umum. pertama, pengembangan tenaga kependidikan harus dilakukan berdasarkan rencara kebutuhan yang jelas. Dengan demikian, tidak akan terjadi ketimpangan antara kebutuhan akan tenaga kependidikan dengan tenaga kependidikan yang tersedia. Kedua, dalam dunia pendidikan perlu senantiasa dikembangkan sikap dan kemampuan professional. Seorang tenaga kependidikan harus mampu untuk tidak bergantung pada pekerjaan yang diberikan oleh orang lain. Ketiga, kerjasama dunia pendidikan dengan perusahaan perlu terus-menerus dikembangkan, terutama dalam memanfaatkan perusahaan untuk laboratorium praktek dan objek studi. (2) Strategi Khusus. Strategi ini berkaitan dengan kesejahteraan, pendidikan prajabatan calon tenaga kependidikan, rekrutmen dan penempatan, pembinaan mutu tenaga kependidikan, dan pengembangan karier.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh kepemimpinan kepala MTs. Nahdlawatul Wathon tersebut diharapkan menghasilkan output lulusan yang produktif, kreatif dan professional. Tentu hal itu tidak lepas dari sikap dan prilaku seorang pemimpin kepala sekolah sebagai motor penggerak terhadap kemajuan sekolah, sikap dan prilaku tersebut juga dapat di sebut dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah.

2. Upaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Kualitas Lulusan
Mengingat dari kebijakan yang diambil oleh kepemimpinan kepala sekolah tidak lepas dari langkah-langkah yang di ambil dalam rangka meningkatkan proses belajar mengajar dan menghasilkan output lulusan yang berkualitas maka kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon mengambil langkah-langkah sebagai berikut :
a. Secara Akademik
Kepala sekolah menilai dari sisi kriteria lulusan, secara akademik masing-masing siswa diharuskan maksimal nilai raport memperoleh nilai yang bagus, guna untuk mengejar hal tersebut kepala sekolah mengambil langkah, yaitu :
1). Secara Lahiriah, menambah jam pelajaran (Remedial) khususnya bagi kelas IX yang mau mengadakan kelulusan, dan mengadakan kompetensi kesekolahan seperti dilaksanakannya ujian kompetensi menghafal surat yasin, dengan ini diharapkan lulusan atau output yang dihasilkan memiliki bekal dilingkungan masyarakat.
2). Secara Batiniah, tidak cukup kiranya melakukan usaha tanpa adanya dorongan batin yaitu do’a, selaras dengan semboyan “Manusia Berusaha Tuhan Yang Menentukan” dengan semboyan inilah kepala sekolah mengadakan sebuah kegiatan yang tujuannya pembersihan jiwa dengan cara sholat dhuha, dan Istigosah bersama. Yang intinya meminta kepada tuhan diberi kelapangan dada, dan dimudahkan dalam melakukan segala pekerjaan.
b. Non Akademik
Secara non akademik langkah yang diambil oleh kepala sekolah terhadap peningkatan kualitas lulusan yaitu :
1). Menyampaikan arahan dan himbauan kepada siswa (anak didik) agar selalu mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh sekolah. Baik yang berkaitan dengan kedisiplinan, kerajinan dan kegiatan-kegiatan yang telah diadakan di sekolah seperti kegiatan remedial dan ekstrakurikuler.
2). Mengadakan pengawasan secara intensif terhadap tenaga pengajar yaitu guru.
Upaya kepala sekolah juga melihat dari sisi proses dan hasil pendidikan, sehingga dalam rangka menghasilkan output lulusan yang berkualitas langkah yang diambil oleh kepala sekolah ialah proses input siswa. Pernyataan itu kami kutip hasil wawancara dengan Bapak Huldi, S.Ag. selaku kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon, beliau menyatakan bahwa :
Sudah 2 tahun berjalan guna untuk memperoleh lulusan yang berkualitas kami mengadakan penerimaan siswa baru dengan mengambil langkah tes seleksi yaitu setiap setelah proses penerimaan siswa baru maka sebelum dikategorikan sebagai siswa MTs. Nahdlatul Wathon maka harus melewati masa ujian tes masuk sekolah, yaitu setiap siswa harus lulus tes ujian membaca Al-Qur’an dan tes ujian Matematika.
Upaya lain yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka peningkatan kualitas lulusan tidak lepas dari pengawasan kepala sekolah itu sendiri kepada para bawahan (guru dan staf), dalam tiap satu bulan sekali kepala sekolah mengadakan evaluasi kinerja oleh masing-masing guru pengajar, guna mendapat masukan dari masing-masing guru terkait dengan tingkat keefektifan dalam proses belajar mengajar. Selain itu kepala sekolah juga mengadakan semacam pemupukan terhadap anak didik dengan cara remidi.
Sebagai upaya dalam melakukan perubahan budaya terutama terhadap mutu produk dari sebuah organisasi atau bisnis, peranan kepemimpinan sangat strategi. Dikemukakan Kouzes dan Posner dalam bukunya Syafaruddin yang berjudul Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan bahwa : “Leader Makes the difference”. “Sebuah lembaga pendidikan hanya akan mengalami perubahan dalam menciptakan mutu lulusan dengan kepemimpinan pendidikan yang berhasil.”
Sejalan dengan pendapat tersebut, Kouzes dan Posner, menjelaskan tentang upaya yang harus dilakukan oleh pemimpin sekolah untuk mencapai mutu lulusan ialah “Shared vision and values are important to future success of the organization.” Membagi visi dengan mengkomunikasikannya dan menanamkan nilai-nilai kepada guru dan pegawai dalam organisasi pendidikan perlu dilakukan agar mereka mengetahui arah dan budaya organisasi yang menjadi pedoman perilaku anggota dalam bekerja.
Memperhatikan pernyataan-pernyataan diatas, Upaya yang telah dilakukan kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan adalah sebagai berikut :
a. Memberikan dorongan terhadap anak didik supaya mengikuti aturan yang telah dibuat di sekolah, baik menyangkut tentang kedisiplinan, kerajinan dan kegiatan-kegiatan ekstra di sekolah.
b. Pemupukan terhadap anak didik melalui jam tambahan sekolah (remedial).
c. Pengawasan terhadap kinerja guru.
d. Selalu memberikan kebebasan kepada guru untuk berinisiatif.
e. Membangun kekompakkan dengan guru maupun staf, demi tercapainya tujuan sekolah.
Hal ini senada dengan pendapat Wahjosumidjo, menyatakan bahwa kepala sekolah sebagai seorang pemimpin dalam upaya peningkatan kualitas lulusan di sekolah maka kepala sekolah harus mampu :
Pertama, Mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para guru, staf dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing. Kedua, Memberikan bimbingan dan mengarahkan para guru, staf dan para siswa serta memberikan dorongan memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan.
3. Faktor Pendukung dan Penghambat Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Peningkatan Kualitas Lulusan
Kepala sekolah juga manusia. Maka dari itu seorang pemimpin sekolah tidak lepas dari kelebihan dan kekurangan. Hasil dari wawancara kami terhadap beberapa responden, baik kepala sekolah maupun kepada masing-masing guru. Maka peneliti memperoleh data terkait dengan hal-hal yang menjadi pendukung dan penghambat terhadap kepemimpinan kepala sekolah di MTs. Nahdlatul Wathon dalam peningkatan kualitas lulusan siswa, ialah sebagai berikut :
a. Faktor yang mendukung kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan
Keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan karena didukung oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, faktor orang tua/wali murid, dan sarana prasarana.
1. Faktor Guru
Dalam rangka mendukung terwujudnya suasana proses belajar mengajar yang berkualitas di sekolah diperlukan adanya guru yang profesional. Guru profesional seharusnya memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personality, dan social. Oleh karena itu, selain terampil mengajar, seorang guru juga harus memiliki pengetahuan yang luas, bijak, dan dapat bersosialisasi dengan baik.
Dari hasil observasi kami, guru-guru di MTs. Nahdlatul Wathon setidaknya sudah memenuhi karakteristik menjadi guru profesional, karena melihat data yang diperoleh dilapangan tenaga pengajar di MTs. Nahdlatul Wathon mayoritas lulusan sarjana (S.1).
Hal ini sesuai dengan pernyataan kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon bahwa : “Persyaratan bagi calon guru yang mau mengajar di MTs. Nahdlatul Wathon minimal lulusan strata satu (S.1).”
Pernyataan ini sangat dipertahankan bagi kepemimpinan kepala sekolah di MTs. Nahdlatul Wathon licin karena dengan kreteria ini diharapkan hasil proses belajar mengajar memberikan suasana yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Pernyataan di atas didukung dengan pendapat salah satu guru bidang study matematika yaitu Bapak M. Bakri, A.Ma. Selaku guru senior di MTs. Nahdlatul Wathon, bahwa “dikatakan guru professional seorang pendidik harus memiliki skill yang mapan, percaya diri, konsisten terhadap waktu dan kesempatan serta penampilan (personal apperoach).
2. Faktor orang tua/wali murid
Kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak merupakan upaya langsung untuk membantu anak termotivasi untuk belajar. Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama anak-anaknya di lingkungan keluarga, memiliki nilai signifikan dalam hubungannya dengan proses pendidikan. Dorongan dan dukungan orang tua merupakan hal yang terpenting bagi anak-anak yang duduk di bangku sekolah. Semakin orang tua memahami dengan baik, dan mendukung anak-anaknya, maka makin membantu mereka termotivasi dan mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar.
Titipan orang tua kepada lembaga juga memotivasi terhadap kepemimpinan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan minat bakat serta kreatifitas anak didik di sekolah.
b. Faktor yang menghambat kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan
1. Faktor Siswa
Tingkat kecerdasan yang dimiliki oleh setiap peserta didik menjadi arah kebijakan penentu tingkat keberhasilan kearah kualitas lulusan serta tujuan pembelajaran yang sudah menjadi visi dan misi lembaga. Sudah barang tentu kepemimpinan kepala sekolah sekaligus menjadi arah penentu keberhasilan sekolah memerlukan input siswa yang baik supaya proses dan out yang dihasilkan baik pula. Sebagaimana yang sudah dikatakan oleh Bapak Huldi, S.Ag. selaku kepala sekolah MTs. Nahdlatul Wathon, mengatakan bahwa: “Input peserta didik baik, output yang dihasilkan tentulah berkualitas.”
Kepala sekolah juga menambahkan terkait hal ini, bahwa mayoritas siswa yang sekolah dilembaga MTs. Nahdlatul Wathon dilihat dari letak geografis anak didik berlatar belakang orang tua bekerja petani, di mana yang notabenenya berpendidikan rendah itupun kalau lulus pendidikan dasar. Dan dukungan dari orang tua sangat minim sekali untuk memberikan motivasi kepada anaknya untuk belajar, sehingga yang terjadi anak tersebut menjadi malas belajar dan menyebabkan anak itu membangkang terhadap orang tua. Begitu juga siswa MTs. Nahdlatul Wathon memiliki intelektual yang rendah dibandingkan dengan siswa-siswa di sekolah lainnya. kepala sekolah juga melihat dari sisi ekonominya, siswa yang sekolah di sini juga tidak mayoritas dari kalangan ekonomi menengah keatas, hal inilah kepala sekolah kesulitan untuk menentukan arah kebijakan sekolah menuju hasil yang berkualitas.
2. Sarana dan prasarana
Untuk kelancaran suatu proses, sudah barang tentu aspek sarana dan prasarana merupakan hal yang sangat vital dan harus ada. Demikian juga dalam upaya untuk menciptakan kondisi proses pembelajaran yang kondusif. Agar proses pembelajaran dapat terlaksana sebagaimana tujuan yang telah ditetapkan, maka perlu didukung oleh sarana-prasarana yang sesuai dengan kebutuhan. Tanpa hal tersebut, proses yang dilakukan pasti akan mengalami hambatan yang besar.
3. Faktor Ekonomi Orang Tua
Mengingat letak geografis penduduk di Daerah Licin yang cukup jauh dari kota serta penghasilan kebutuhan dan pekerjaan yang sangat minim sekali, ini merupakan kendala hal yang wajar bagi lembaga pendidikan dalam peningkatan kualitas siswa kaitanya dengan lulusan yang dihasilkan oleh sekolah. Begitu juga tanpa adanya dana yang mendukung terhadap peningkatan pendidikan guna untuk memenuhi kebutuhan siswa seperti, ruang belajar yang kondusif, fasilitas yang memadai dan sarana prasarana yang mencukupi.
Upaya kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan, tentu tidak terlepas dari adanya faktor pendukung dan faktor yang menghambat.
Di MTs. Nahdlatul Wathon Licin, kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan didukung oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Adanya tenaga pendidik (Guru) yang professional.
b. Kepedulian serta dukungan dari Orang Tua/Wali Murid terhadap anak didik dalam proses belajar mengajar.
Sedangkan Faktor penghambat kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan adalah sebagai berikut :
a. Kuantitas siswa yang rendah serta minimnya intelektual peserta didik dalam menyerap beberapa materi.
b. Sarana Prasarana yang tidak lengkap.
c. Minimnya ekonomi orang tua
Adanya faktor pendukung dan penghambat kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan ini sangat wajar. Menurut Mulyasa (2003:68) hasil analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat), dan kajian dari berbagai sumber dapat dikemukakan faktor dominan (kekuatan, dan peluang) serta faktor penghambat (kelemahan dan tantangan) kepala sekolah dalam paradigma baru manajemen pendidikan sebagai berikut :
1. Faktor Dominan (Kekuatan dan Peluang)
Faktor dominan (kekuatan dan peluang) kepala sekolah dalam paradigma baru manajemen pendidikan terhadap peningkatan kualitas lulusan mencakup : Gerakan peningkatan kualitas pendidikan yang dicanangkan pemerintah, Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan, Gotong royong dan kekeluargaan, Potensi kepala sekolah, Organisasi formal dan informal, Harapan terhadap kualitas pendidikan, Input manajemen.
2. Faktor Penghambat (Kelemahan dan Tantangan)
Faktor penghambat (kelemahan dan tantangan) kepala sekolah professional untuk meningkatkan kualitas pendidikan (lulusan) mencakup : sistem politik yang kurang stabil, rendahnya sikap mental, wawasan kepala sekolah yang masih sempit, pengangkatan kepala sekolah yang belum transparan, kurang sarana dan prasarana, lulusan kurang mampu bersaing, rendahnya kepercayaan masyarakat, birokrasi, dan rendahnya produktivitas kerja.
Dari pernyataan diatas, Syafaruddin (2002:91) menyebutkan terkait dengan faktor pendukung terhadap peningkatan kualitas lulusan, bahwa pada pokoknya ada tiga perspektif yang menentukan sekolah efektif, yaitu pertama, organisasi keberadaan sekolah yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang ada di sekolah adalah efektivitas kepemimpinan kepala sekolah, profesionalisme guru, dukungan staf yang baik, pembiyaan yang cukup, sarana dan fasilitas pengajaran yang baik, dan iklim sekolah yang kondusif. Sedangkan faktor eksternal adalah dukungan dewan sekolah, dukungan industri, pemerintah, ekonomi masyarakat, dan lingkungan social.
Kedua, proses seluruh aktivitas atau interaksi mengajar (guru) dan belajar (murid) yang bermuara pada pencapaian tujuan pendidikan. Di dalamnya melibatkan guru yang terampil, kurikulum, kesiapan murid, termasuk sarana mengajar dan belajar.
Ketiga, hasil, yaitu prestasi yang dapat diukur. Prestasi inilah yang dikaitkan dengan mutu. Prestasi dapat diketahui dari hasil belajar pada ujian caturwulan, ulangan harian, maupun ujian akhir naik kelas atau ujian belajar tahap akhir untuk penentuan kelulusan.
Sedangkan menurut Sudarwan Danim (2006:10) menyatakan bahwa faktor penghambat terhadap kepemimpinan kepala sekolah dalam peningkatan kualitas lulusan yaitu dikarenakan kemampuan manejemen kepala sekolah yang masih lemah, etos kerja sebagian guru-guru di sekolah masih relative rendah, tingkat kesejahteraan guru yang belum baik dan keterbatasan fasilitas pembelajaran.
Maka dari itu lahirlah sosok institusi pendidikan dengan ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Tradisi kehidupan masyarakat kita yang belum kompetitif ikut mendorong para siswa dan mahasiswa tidak sungguh-sungguh menjalani proses studi. Masyarakat kita pun belum menjadi masyarakat belajar sehingga suasana kehidupan sebagai insan pembelajar belum tampak pada seluruh lapisan masyarakat.
Deskripsi diatas juga menggambarkan bahwa perjuangan komunitas sekolah untuk menciptakan sekolah secara bermutu, baik proses maupun luarannya, benar-benar berat. Di luar tudingan bahwa mutu pendidikan kita masih rendah atau realitasnya memang demikian, berbagai pihak mestinya ikut berkacamata secara jernih. Pertumbuhan ekonomi kita yang rendah menjadi penyebab utama peningkatan mutu lulusan sekolah.