Basic Training HMI


BATRA HMI Day 1 (1 Desember 2017)

Bismillah.

13 Rabbiul Awwal 1439, 23.50 WIB
Ingin kutulis banyak, tapi sudah habis upaya kumaksimalkan menyelesaikan 3 tulisan lain.
Aku merasa lelah dan terkantuk. Mungkin sebab sadar masih bodoh dan dari sore habis diisi deg-degan. Tapi full yakin, semua akan jadi nikmat. Bismillah. Besok akan bagaimana?

14 Rabbiul Awwal 1439, 04.28 WIB
Sebelum bicara soal apa hari ini, pagi-pagi akan kusampaikan keadaanku sampai sekarang yang belum sempat semalam kubagi. Jadilah, sebetulnya aku perempuan sendiri, yang membawa pada hal-hal berikut ini.

1. Kecanggungan bercengkerama

Tidak bisa kunafikan, ini sedikit membawa kegelisahan dan kecanggungan. Bagiku sendiri, jelas. Dan sahabat lain pula sepertinya. InsyaAllah paham. Sebab aku perempuan sendiri, sedikit banyak kurasa tidak enak dan ndak bisa terbuka langsung. Sok kalem mah begini. Cuma bisa bermodal senyum. Hehe. Beberapa teman memenangkan hatinya untuk membuka percakapan denganku. Sebagian yang lain, dalam pemahamanku tentu takut dikira ngapain atau bingung mau ngomongin apaan. Ndakpapa. Tahu posisi. Eh, hmm, atau aku yang kurang membuka diri?

Dalam pematerian semalam, nyaris kubuang kesempatan sesi pertanyaan. Kalau betul kulepas, sepertinya saat tidur aku akan mumdas. Tapi syukurlah sok-sokan kuterabas. Receh sekali apa yang kusampaikan. Huh. Hahaha. Tapi, memuaskan. Nggakpapa, ini konsekuensi dari niat yang “katanya” mau berlari dari kebodohan. Kudu nge-gas. Kudu diterabas.

2. Fasilitasku jadi prioritas

Hehe. Sok-sokan banget. Bukan begitu. Tapi betul. Sebab aku perempuan kamarku disendirikan, di sebuah kamar utama. Kamar besar, sangat besar. Kamar mandi dalam. Ada almari dan bangku besar. Tempat tidur big size yang empuknya nggak nahan. Semalam habis waktuku gulung-gulung sambil menikmati isi kepala terjun payung pada lembar-lembar handphone. Hehe. Sebetulnya agak ndak enak juga, sendirian di kasur hangat sedang yang lain di ruang tengah di lantai. Andai peka dan rasa iba yang begitu besar, tentu aku beranikan membagi bantal dan guling yang tumpah ruah. Tapi nyatanya, diriku baru peka pagi ini. MasyaAllah.

Pagi ini pun dua orang sahabat menatap kamar besar dengan wajah miris sambil bercanda-canda. “Sana tidur sana,” tawa salah satu nya. Hueee. Begitu ndak mengenakkan hal itu.
Lagi-lagi saat ibadah, entah karena perempuan atau apa, sengaja disisakan sajadah untukku. Mmm. Betul untukku atau aku saja yang ke-ge-er-an? Entah. Haha.

3. Nggak bisa jadi ketua

Hehe. Ini terbaca ambisius sekali. Tapi, no! Jadi singkat cerita, pada pemilihan ketua… Semua ditanya. Ini, mau nggak. Itu, siap nggak. Sampai padaku, MoT belum-belum bilang, “Ahimsa… Eh, perempuan ya…” lalu berpindah ke yang lain.

Ugh. Mungkin sebab belakangan aku dicor dengan doktrin feminisme, mau segereget apa aku berseru aku bukan feminis, sedikit banyak pemahamannya aku jadi peka. Iya kan? Ketika hal itu terjadi, sebetulnya ada godaan angkat tangan untuk meluruskan, bahwa alasannya bukan sebab aku perempuan. Meskipun memang bisa jadi arahnya ke sana. Aku ndak mungkin membangunkan para ikhwan, ndak mungkin juga ngopyak-ngopyak mereka. Hmm, atau bukan ndak mungkin, tapi susah. Hehe. Lebih baik, tidak disebut “karena perempuan”.

Akhirnya, sampai saat ini, itu masih terpendam. Belum sampai diriku pada tahap keberanian.

16 Rabbiul Awwal 1439, 04.23 WIB
Beberapa sahabat yang sudah hadir sebagai peserta ialah Mas Razhel, Mas Faris, dan Mas Defit dari FEB. Mas Adin, Mas Asyif, Mas Fikri, Mas Michael, dan Naufal dari F. Pertanian. Zuhair dari F. MIPA.

Materi pertama yakni Keyakinan Seorang Muslim yang disampaikan oleh Kanda Rozi dari FEB. Pembahasannya membawa pada soal ketauhidan dan sedikit banyak menyentuh sejarah Islam yang jelas aku masih kurang dalam memahaminya.

Ugh. Pembahasan soal iman selalu menghantarkanku pada keinginan untuk melepas segala hal keduniawian. Pada akhirnya pertanyaanku menuju pada topik soal sufisme, yang secara iman mungkin tidak lagi diragukan, namun menyoal kepeduliannya terhadap dunia sekitarnya sepertinya tidak jadi optimal. Entah mengapa, mungkin tanya itu muncul sebab dorongan besar dalam kalbu belakangan tersiksa dengan rasa terkurung keadaan dunia dan ingin bebas.


BATRA HMI Day 2 (2 Desember 2017)

Bismillah.

15 Rabbiul Awwal 1439, 23.42 WIB
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.

Tiada henti luapan syukur ingin kusampaikan kepada Dzat Yang Super Duper Baik. Ampuni, sering pribadi ini dipenuhi pikiran negatif yang enggan usai menggerogoti yakin yang ingin dibangun. Astaghfirulloh. Semoga ke depan, makin besar hatiku memantapkan iman.
Pagi tadi, usai aku menyelesaikan tulisan sebelum ini, aku dilanda gelisah. Apa yang perlu kuperbuat biar tenang? Hanya di kamar? Kubiarkan raga mencoba berinteraksi di ruang tengah, tapi ternyata pun nir faedah. Aku gemas, harus bagaimana? Rasanya tidak produktif berdiam di kamar maupun memaksakan diri dengan interaksi yang membikin tertekan. Aku sepertinya Kartini rasanya. Bedanya beliau dikurung orang, aku dikurung bimbang. Sampai akhirnya kumenangkan rasa ingin bebas. Keluar!

Aku menuju halaman depan, bicara pada Kanda Jaya selaku panitia bahwa akan jalan-jalan sebentar. Hehe. Sungguh ndak ada bayangan mau ke arah mana. Ah, mungkin sawah, pikirku. Tapi nggak tahu juga, emang ada sawah? Muehehe. Sampai terpikir belum sampai jemari kaki menginjak rumah terdekat-Mu di sini. Maka dengan langkah iseng, kugapai ubinnya melalui beberapa petunjuk orang yang kutanya.

Sekadar ikut membersihkan diri lalu sebab agak takut sendiri, kuputuskan berjalan lagi. Maafkan ngisin-isini.

Beberapa hal kupelajari dari warga desa Pakem. Pertama, betapa kecenya mereka yang pagi itu di sederet jalan bersamaan menyapu jalan depan rumah masing-masing. Semuanya. Semua rumah, selalu tampak ada barang satu orang menyapu. Wow, menurutku yang mungkin barang bertemu wajah-wajah begini di kota. He he. Kedua, keterbukaan dan ramahnya mereka. Ndak tahu siapa aku, masih saja disapa, diberi senyum, diperkenankan ngobrol. Ada satu cerita membaperkan yang ingin kusampaikan, tapi besok pagi ya. Aku habis terkantuk-kantuk.

16 Rabbiul Awwal 1439, 04.37 WIB
Pagi itu, ketika berhadapan dengan kadang jagung dan hutan jati berukuran kecil sekali, mataku bertemu dengan milik seorang Bapak yang sedang mengurusi jagung-jagungnya. Beliau ada di dalam rumah kayu kecil. Aku hanya lewat sambil tersenyum bermaksud melanjutkan perjalanan.

…Beberapa langkah lalu membawa pada gelisah. Duh. Jangan-jangan di sana aku bisa menemukan inspirasi. Tapi bagaimana? Bagaimana kalau aku malah mengganggunya?
Ugh, aku sempat menghentikan langkah dengan batin yang dipenuhi keraguan. Kalau bukan sebuah impuls (yang aku tahu dari mana datangnya, hehe), aku pasti takkan berbalik. MasyaAllah.

“Nyuwun sewu, Pak, boleh ini saya ikut lihat?” seruku yang langsung disambut nikmat oleh sang Bapak. Alhamdulillah. Enak sekali. Pak Sudi nama beliau. Ketika kusebut latar belakang apa yang membawaku, beliau segera antusias. Darinya beberapa hal kutemui :


  • Beliau mantan aktivis GMNI 
  • Berkat beliau sedikit-sedikit kupahami posisi CGMI, GMKI, PMKRI, dan lain-lain yang sebelumnya kerap kubaca di buku catatan harian Soe Hok Gie tapi belum benar-benar kupahami maksudnya.
  • Beliau alumnus SMPN 2 Yogyakarta, MasyaAllah. Langsung wow, ternyata kami sempat dilahirkan dari rumah yang sama. Beliau masuk tahun 1955. Dari ceritanya, dulu beliau pernah tidak dinaikkan kelasnya sebab berseteru dengan kepala sekolah yang dikatakan sempat memanfaatkan tukang kebun sekolah untuk urusan rumahnya.
  • Beliau bercerita di dekat lokasi itu ada gedung Kempo yang biasa dipakai juga oleh teman-teman HMI dari IAIN. Saat ini pengelolanya adalah Pak Umek. Gratis bila dipinjam, kecuali biaya listrik, hehe. Luasnya cukup digunakan untuk 30-50 orang.
  • Sedikit yang bertentangan dengan beliau adalah ketika menyoal berbagai wadah pergerakan (dalam konteks ini soal keagamaan) di mana menurutnya cenderung lebih baik disatukan dalam satu kendaraan perjuangan, layaknya pada masa gemparnya spirit Nasakom maksud beliau. Hehe. Tapi pribadiku kok tidak setuju untuk itu. Maka kemudian beliau melanjutkan, “Oh ya ini, kalau saya.” Hehe. Masya Allah. 
  • Dan banyak lagi, namun tiada perlu kusampaikan semuanya.


Puas. Enak. Sempat pula dikenalkan dengan istri dan anaknya, pun cucunya yang akhirnya mengajariku bagaimana mengelupas biji-biji jagung. Kalah aku ternyata. Tangan merah-merah. “Itu susah to,” kata Pak Sudi dan betul aku mengiyakan. Sakit! Ugh! Tidak biasa.

Setelahnya, sebab sadar telah nyaris dua jam ngobrol di rumah kayu itu, kumohon izin untuk pamit. Kemudian disampaikannya titipan salam yang membuatku bingung, duh bagaimana menyampaikannya? Hehe. Tapi syukurlah alhamdulillah mampu juga kututurkan meskipun di awal mendengar cerita siapa beliau ini respon sahabat lain agak terkejut, tapi wow juga. Bahkan ada yang berceletuk, “Wah, diajak main ke sini boleh!” Hahaha.

Masya Allah. Lumayanlah. Pagi itu jadi sedikit banyak ada bahan obrolan dengan sahabat-sahabat ikhwan.

Materi hari itu di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Wawasan ilmu
Alhamdulillah tambah ada sahabat perempuan hadir. Mbak Dian dari FEB 2014. Masya Allah. Rame deh jadinya diriku. Beranilah bersuara banyak sekarang. Ehehe. Materi ini enak. Pengisinya semi liberal jadi ya pembahasannya bisa dibayangkan, beliau ngaku sendiri loh hahaha. Kanda Aziz namanya. Entah bagaimana dari pematerian beliau aku jadi sadar sesuatu bahwa kebanyakan yang ada di kepalaku isinya cenderung hasil doktrinasi (kemungkinan sih). Maksudku, kebanyakan sekadar kristalisasi dari pemikiran orang-orang yang mungkin pernah kubaca bukunya atau pernah bersinggungan denganku mungkin atau apalah. Di sini, betapa aku sadar sekali, masih kurang dalam melakukan perenungan dan menggunakan otakku sendiri. Gaspol, Hims. Jangan berhenti.
  1. Wawasan Sosial
Pengisinya Kanda Lutfi dari F. Pertanian. Dari semua style pematerian yang ada, diriku paling suka sama yang ini. Kami dibagi menjadi dua kelompok pro dan kontra untuk masing-masing mengkritisi keberadaan bandara baru yang sedang dibangun di Kulonprogo. Sensitif sekali bagi anak-anak Fak. Pertanian kan? Iyalah, sebab kebetulan panitianya kan dari pertanian. Sungguh mantap jiwa. Panas deh. Kusuka! Hehe. Cuma di endingentah sebab lemah atau memang aslinya payah, otakku tidak bisa mencerna lagi pokok pembahasannya. Cuma geleng-geleng dan heha-hehe. Yeah, lagi-lagi merasa bodoh. Baguslah. Materinya berhasil berarti. Hahaha.
  1. Kepemimpinan
Pematerinya Kanda Abdul Aziz dari FEB. Jauh untuk digapai sih. Pematerinya memakai banyak istilah berbahasa Arab. Gile, masya Allah, keren sekali. Sampai bingung aku mencatatnya. Tapi mantap! Lagi-lagi merasa bodoh. Hehe. Cuma untuk substansi materinya, kurang sih menurutku pribadi. But, it is ok. Seru di bagian tanya jawab ketika materi ini dipersinggungkan dengan fenomena belakangan yang panas seperti pembahasan pemimpin non-muslim dan sistem pemerintahan yang ideal menurut pandangan Islam. UGH! Ndak tahu kenapa kalau menyinggung ke sini-sini, pun di kelas agama kalau kuliah, kok merasa lama-lama otakku mengarah ke liberal ya. Takut. Huhu. Hehe. Sekali lagi, note, masih kudu belajar lagi biar paham memposisikan diri.
  1. Etos Perjuangan
Pematerinya Kanda Kutub. Entah bagaimana, kok melihat beliau aku jadi inget dengan sosok sahabat yang jadi bapak Advokasi di awal-awal, Mas Satok. Hehe. Bentukannya kali ya. Di sini, malu nih jadi anak sastra tapi baru paham (atau inget, soalnya kayanya pernah tahu) makna kata “etos” hehe. Ternyata artinya cara, metode, budaya, atau pembawaan. So, etos perjuangan means cara berjuang, kurang lebih. Lewat penyampaian beliau lagi-lagi diingetin untuk segera memantapkan tujuan, mau apa, ngapain, buat apa, arahnya kemana, caranya bagaimana. Jangan-jangan sekarang lagi perjalanan melengse dari tujuan awal. Uwaduh. Bahaya! Bismillah, mantapkan oh Tuhan!
  1. Ke-HMI-an
Hehe. Banyak manusia yang akhirnya jatuh kepada dunia mimpi waktu ini. Mungkin sebab sudah malam dan kebanyakan yang terbahas juga soal sejarah jadi pada lelah. Sedang aku pribadi, Mbak Dian, dan satu lagi Mas Fikri bertahan mungkin sebab punya alasan masing-masing untuk tetap bangun. Aku karena merasa bodoh. Mas Fikri karena menikmati sekali materinya, beliau tahu banyak soal ini. Ugh. Mbak Dian sekalian belajar untuk besok sebab sepertinya akan ujian. Ugh. MAsya Allah. Enak sekali. Beberapa kebingunganku terjawablah soal hadirnya HMI. Meskipun ya masih kudu tahu lagi kan?

Malam itu akhirnya usai juga. Huahaha.

Sebetulnya di materi terakhir sempat ada gangguan dari kedatangan Koramil. Ugh. Ngeri dan deg-degan. Tapi bisa ditangani panitia. Cuma soal salah paham. Mungkin karena ada title islam jadi dikhawatirkan sesuatu berbau radikal. Hmmm. Memang manusia sukanya curigaan. Muehehe. Tapi seorang teman malah ngelawak, “Jangan-jangan karena pertemuanmu tadi pagi, Him.” Aku ketawa. Ngawur sekali.

Oh iya, biar kutambahkan. Jadi semenjak hari pertama, ada dua orang mempertanyakan plus di hari kedua juga satu orang melemparkan pertanyaan yang sama. Sampai sebal aku mendengarnya. “Kamu masuk HMI disuruh Bapak atau mau sendiri?” Huaaaaa.

Sudah lama-lama kusampaikan ke Bapak sebelumnya ndak perlu bilang kalau aku ini anaknya Bapak, tapi malah beliau berseru saat itu, “Wah Bapak sudah bilang ke panitianya.” Hmmmm. Indah sekali ya. Sudah kubayangkan setelah itu akan banyak manusia yang mempertanyakan soal motivasiku. Dan, betul kan.

Hehe. Sepertinya aku mengalami pendekatan dengan HMI secara kultural. Sejak kecil. Sejak manusia-manusia dari yang muda sampai tua sering main ke rumah atau mengajak kami sekeluarga ikut acara (saat itu si kecil Sobat belum ada). Bahkan setelahnya ketika gempa tahun 2006 aku ingat sekali kami mengunjungi posko HMI dan bermain banyak dengan mas mbak di sana. Karambol. Ingat sekali aku saat itu. Lalu di beberapa agenda pelatihan ingatanku juga masih baik mengenangnya. Bagaimana ibu lalu bercerita kalau acara begini makannya pakai nasi bungkus biasanya, aku bahkan masih ingat dengan potongan memori-memori seperti itu. Lalu kenangan lagi saat SMP, senang sekali aku memakai gantungan kunci macam-macam. Di tas, di tempat pensil, semuanya. Khusus di tempat pensil waktu itu cuma terpasang satu, punya HMI. Tapi habis itu lenyap. Tidak tahu rimbanya. Ugh. Uwenak sekali diingat. Rindu, kadang, berada di masa begitu. Hehe. Tapi, ya, dunia harus bergerak.

Kemudian berlanjut hingga saat ini dan aku di sini. Di acaranya, menjadi pesertanya. Wow sekali.


BATRA HMI DAY 3 (3 Desember 2017)

Yogyakarta, 17 Rabbiul Awwal 1439
Hehe. Malu nih. Di hari ketiga setelah ada teman Mbak Dian dan Mbak Indah, habis sholat Shubuh langsung nggelepar kami semua melewatkan olahraga pagi. Semua yang ikut laki-laki. Ketika akan menyusul, malulah ya menampakkan diri. Jadinya urung kami pergi. Biarlah ke kasur lagi. Muehehe.

Setelahnya ada materi terakhir dari Pak Irham, alumni HMI. Sekarang Dosen Sosek Pertanian. Materinya tentang kewirausahaan. Salah satu bagian penting materi sebab mengusung tema kegiatan yakni “Science and Entrepreneurship” muehehe. Agak penuh usaha untuk menghindarkan kantuk sih saat ini. Syukurlah Pak Irham sedikit punya humor untuk membantu mempertahankan hehe.

Setelahnya singkat saja kami ada acara pelantikan.

Yak, kami dibawa ke sungai. Siap. Kami jadi kader baru. UGH. Bismillah. Alhamdulillah. Kumenatap kaki yang basah. Perjalanan ini akan ke mana? Lillahku akan bagaimana? Sejujurnya aku masih merasa jauh sekali dari sana.


Allah.

Allah.

Allah.

Apa separah ini kalbuku? Nggak tahu kenapa, rasanya sudah berulang kali kusebut dalam mulut asma-Mu tapi gemetar yang aku rindukan mengapa belum juga turut? Aku ingin menangis, tapi mengapa tidak mau juga?

Aku bingung.

Yard in front of our house, ugh, feels so vast.


Masjid yang sempat kukunjungi. Sangat sejenak.


Ini jati bukan sih? Haha, salah ya?


Nice kitchen.


Backyard, so friendly.



My own room in day 1.


Ugh. Welcome to our paradise!


It looks really close with the mountain, but idk why when i take the picture it looks smaller, hmm.


Butterfly terbanglah tinggi, menuju anganku untuk meraihmu. Eaaak~


Mbak Dian #1


Mbak Dian #2


Mas Asyif, Mas Ridwan, Zahier


Mas Jaya, Mas Lutfi, Mas Zaki


Mbak Dian #3


Can i still say this for her next photo? Hehe.


Bingung mau kemana.