Belajar

“San, nang mesjid saiki meh dijak neng merapi tekan sesuk awan…nggowo perlengkapan sisan”
Pesan singkat yang masuk ke ponsel saya, sabtu siang kemarin. Pesan yang menimbulkan dilema,  bukan hanya karena SMS itu saya terima 32menit dari waktu keberangkatan yang dijadwalkan ke lereng merapi- merbabu, juga karena saya sudah berencana untuk hadir pada latihan memanah di lapangan Denggung ahad paginya.  Sempat terbesit untuk menolak ajakan ke lereng merapi ini, namun seketika saya teringat sebuah materi di suatu malam di bulan maret tahun 2009, ya ruhul istijabah. Beberapa menit berikutnya saya sadar mungkin ini “hiburan” dari Alloh, di akhir pekan yang berpeluang menjadi akhir pekan dengan tingkat “galau” yang tinggi, tiba tiba di ajak ke lereng merapi- merbabu. Ya, akhir pekan itu bisa jadi hari- hari yang berat, mulai dari honor yang belum juga turun (curhat) dan berbagai masalah- masalah lain. Oke saya putuskan berangkat.

Saya berangkat ke lereng dua gunung yang menjadi inspirasi logo provinsi jawa tengah dengan persiapan yang minim. Ini bukan pendakian ke puncak, perjalanan ini dalam rangka pelatihan teman- teman Himpunan Anak- Anak Masjid (HAMAS) Jogokariyan. Dan sayapun mendapatkan banyak  pelajaran dari perjalanan ini, tidak rugi meninggalkan latihan memanah.

Belajar dari HAMAS Jogokariyan
HAMAS Jogokariyan aadalan organisasi anak-anak di masjid Jogogokaryan, anak- anak bukan remaja. Tugasnya adalah membimbing adik- adik yang lebih kecil. Di beberapa tempat atau bahkan hampir semua, usia SMP-SMA  saya katakan sebagai generasi yang hilang dari masjid, usia-usia  yang lebih banyak main diluar. Tetapi HAMAS ini lain, mereka memikul tanggung jawab untuk membimbing adik- adiknya.  Tapi saya mohon, jangan bandingkan HAMAS dengan LDK  dikampus anda, karena dari segi usia mereka dan pengalaman LDK itu jelas lebih unggul. Semoga di tempat lain akan muncul HAMAS – HAMAS baru yang tak kalah tangguh.

Belajar dari Relawan masjid

Selama berada di lereng merapi- merbabu, kami mengambil base di desa binaan  relawan Masjid. Tak bisa di pungkiri bahwa daerah lereng merapi- merbabu ini merupakan kawasan rawan pemurtadan,  rawan dengan adanya kristenisasi. Relawan masjid hadir disana berusaha untuk menangkal pembusukan aqidah umat islam ini (yang tidak setuju dengan istilah pembusukan,  boleh protes). Kami tiba di dusun Windusajan, desa Wonolelo sekitar pukul 15.30, desa ini menjadi desa binaan sejak meletusnya Merapi 2010 silam. Relawan masjid menghidupkan islam di sini, selama di windusajan dari 3 kali sholat, masjid selalu penuh. Memang masjidnya kecil, tapi jumlah penduduknya juga sedikit, cukup proporsional lah. Selain itu relawan masjid juga mendirikan TK/TPA al aqsho di windusajan ini. Bada isya, perjalanan dilanjutkan, kami menuju coban duwur, lokasinya tebih tinggi dari windusajan, masih di desa wonolelo. Perjalan kaki malam itu kami tempuh sekitar satu jam.  Di dusun kedua ini, penduduknya hanya sekitar 40keluarga. Sebelum Merapi meletus, tinggal TUJUH keluarga yang masih muslim, yang lain menjadi korban pembusukan aqidah, Alhamdulillah, hikmah dari meletusnya merapi yang kemudian datang relawan masjid jumlah antara muslim dan kristen di sana berimbang. Di coban duwur juga saya bertemu dengan dai dari relawan masjid yang ditempatkan di dusun ini. Relawan masjid telah menunjukkan pada saya bagaimana cara melawan pembusukan aqidah, aksi nyata yang membantu saudara seaqidah kita.

Belajar dari Dai mukim

Untuk menangkal pembusukan aqidah, relawan masjid menempatkan dai di daerah daerah yang sangat rawan terhadap pembusukan aqidah. Saya menyebut mereka dai mukim, memang ada semacam honor untuk para dai mukim ini, tapi itu sangat tidak cukup atau bahkan dai mukim ini berkontribusi dengan harta mereka juga untuk menghidupkan islam. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah, mereka harus tinggal dan menetap di lereng merapi- merbabu, meninggalkan berbagai fasilitas yang ada di kota, sinyal seluler tidak semua ada, internet belum tentu, dan berbagai kendala- kendala lain.  Hasilnya jelas, subuh yang dingin di coban duwur membuat saya terharu, jamaah subuhnya cukup banyak, hari itu masjid yang sedtikit lebih besar dari ruang keluarga dirumah saya itu penuh oleh jamaah, alhamdulillah. Kurang dari dua tahun yang lalu, jumlah muslim tinggal  tujuh keluarga, pagi itu jamaah subuh memenuhi masjid. Dan saya semakin kerdil tatkala jamaah subuh yang di imami mas akhsin, seorang dai mukim, beliau menggunakan qunut, ah  base relawan masjid itu di jogokariyan yang tidak qunut ketika subuh, ah saya sadar dakwah itu mengajak pada islam. Dari situ saya merasa surga masih jauh.

Belajar dari Palestina
Lho kok Palestina? Ya Palestina, yang ini beneran Paelstina, negeri yang masih dirongrong oleh zionis itu. Di desa binanaan tadi, relawan masjid mendirikan TK/TPA yang dananya sebagian diperoleh dari sumbangan saudara- saudara kita yang ada di Palestina. Mereka memang sedang dalah kondisi yang sangat sulit, namun masih peduli dan mau membantu kita. Bantuan itu terkumpul ketika terjadi bencana Merapi dulu melalui sahabat Al-aqsho. Semula sahabat Al-aqsho sempat menolak namun mereka tetap memaksa untuk dapat ikut membantu. Dan kemarin saya temu beberapa orang memakai kaos bertuliskan “Tanda cinta dari Palestina untuk saudara di Indonesia”. Ah, Palestina, Insya Alloh segera merdeka.

Belajar dari pengusaha

Nah ini? Ya kemarin itu yang merancang acaranya adalah CEO penerbit buku- buku islam yang cukup ternama, beliau juga sekjen dari sahabat Al-aqsho. Benarlah uang itu kalau diatangan orang yang tepat islam akan kuat. Inisiator dari relawan masjid ini selain CEO penerbit tadi, juga seorang lagi CEO air mineral teroksidasi. Dari mereka saya belajar bagaimana   membelanjakan uang. Mobil keduanya biasa untuk wira-wiri jogja lereng merapi, tanpa ada keuntungan finansial yang didapat. Yang membuat saya tersanjung adalah ketika beliau makan bersama dengan anak-anak peserta menggunakan nampan yang sama. Terimaksih mas, pelajaran kehidupan yang hebat untuk saya.

Belajar dari alam

Klise memang, tapi alam telah mengajarkan penduduk di lereng merapi merbabu untuk hidup. Alam mengajarkan anak-anak berjalan di tepi jurang, berlari di tepi sungai, bertahan dalam kedinginan malam. Dan alam membuat saya takjub ketika pagi menjelang, memandang ke depan adalah Merapi dengan gagah dan terlihat tenang, ketika menengok kekiri si kalem merbabu tak kalah mempesona. Alam juga mengajarkan keramahan kepada penduduknya, entah berapa ratus kali saya menerima tawaran “monggo mas pinarak”. Terdengar formalitas memang, tapi kalo kita beneran mampir paling tidak ada teh hangat yang disediakan oleh tuan rumah.