cerpen cinta dialam mimpi

SECRET
                Pagi yang indah untuk mengawali hari pertamaku  di negeri sakura. Matahari yang begitu hangat masuk melalui celah- celah  jendela  aparteman miliku. Dan kini aku  harus tersadar dari dunia mimpiki  untuk bersiap-siap melakukan tujuan utama ku datang ke negeri ini. Aku mulai menyiapkan barang-baranga yang dibutuhkan dan langsung membasuh wajahku. Setelah itu hal yang harus juga aku persiapkan adalah penampilanku. Aku pun langsung membongkar –bongkar tas pakaian miliku yang sedari kemaren aku anggurkan. Akhirnya setelah bebetapa menit  aku telah siap dengan tas ransel yang berada dipuggungku.
                “oke semuanya sudah beres, emmmm penampilan yang cukup menarik. Angel Kirana Putri apakah kamu siap memula harimu  dimusim panas ini?  Berusahalah melakukan yang terbaik.” Ucapku kepada diri sendiri sambil berdecak pinggang didepan cermin disudut kamarku.
Memamang kelakuan yang aneh ini membuatku tertawa gelih seperti orang gila. Hari yang menyenangkan walupaun dihati kecilku sedikit menyesal dengan keputusan yang aku ambil ini. Yang terpaksa membohongi orantuaku. Mereka menginkanku menjadi seorang pengusaha sukses dengan menguliyahkan ku dinegeri sakura ini . Namun keinginan orang tuaku bertolak belakang dengan apa yang aku ingikan yaitu menjadi seorag detektif. Karena aku sangat menginginkan hal itu terpaksa aku berbohong untuk mengambil segala resiko yang akan terjadi nantinya termasuk resko dari pekerjaan ku ini.
                Jam dindingku menunjukkan pukul 09.00 am. Aku pun langsung turun ke lantai dasar untuk melihat jemputanku. Disana sudah ada wanita berambut pirang yang sedari tadi  mondar- mandir sambil melihat arloji yang ada ditangannya. Dia adalah Naila salah satu sahabatku yang menyetujui keputusan yang ku ambil ini.
Setelah melihat exspresi wajahnya yang mulai bad mood aku pun buru-buru menyapanya sebelum ia menghampiriku dan berteriak ditelingaku.
“Naila…….. Ohayou gosaimasu ” seruku sambil berlari menghampirinya.
“aduh Angal kapan sih kamu berubah ngak di Indonesia ngak disini tetap aja lama, aku pusing deh” gerutunya sambil berjalan menuju mobil miliknya.
“iya …..iya aku minta maaf udah ya marahnya” ucapku genit.
“ih, bagaimana kita harus kemana sekarang”.
“mengurus semua yang belum beres untuk menjadi seorang detektif yang handal”. Ucapku sok serius sambil menarik sabuk pengamanku.
Akhirnya 4 tahun talah terlewati dan waktunya aku harus kembali ke Indonesia dengan membawa misi yang harus aku pecahkan.  Aku pun tiba ditanah air dan kota kelahiranku jakarta. Semua keluarga menyambutku dengan gembira terutama papa dan mamaku yang sangat bangga karena aku menyelesaikan kuliah yang mereka inginkan. Aku sangat merasa bersalah dan berdosa telah membuat ini menjadi suatu kebohongan yang sulit sekali aku tebus nantinya. Ingin sekali aku mengatakan semua kebenaran yang aku sembunyikan namun setela melihat respon yang mereka tunjukkan membutku mengurungkan niat mengatakan semua rahasia itu.
“Angal bagaimana nak kamu baik- baik saja”. Tanya tanteku yang sengaja datang dari Bogor melihatku.
“baik tante” jawabku lembut.
“oh ya bagaimana disana kamu lebih suka disini atau disana”
“ah tante yang jelas disini lah dekat dengan keluarga”
“iya sih  betul. Bagaimana kalau sementara ini kamu kerja diperusahaan tante dari pada nganggur”
“iya tante nanti saya pikirkan tawarannya”. Jawabku ramah.
Dan begitu banyak pertanyaan yang harus ku jawab yang ditanyakan keluarga- keluargaku. Walaupun aku agak capek tapi aku tetap menjawabnya karena itu semua wujud perhatian mereka terhadapku. Sampai akhirnya mama menyadari bahwa sedari tadi aku belum istirahat dan langsung menyuruhku istirah. Dengan cepat aku langsung meninggalkan ruang keluarga menuju kamar yang tak perna aku lihat lagi selama 4 tahun ini. Tak sabar aku pun langsung membuka pintu kamar yang sangat aku rindukan dan mulai tercium bau khas dari kamarku yaitu aroma original lemon yang mampu membuat siapa saja tertidur pulas.
“ternyata mama telah menyiapkan  semuanya untukku”. Kataku dalam hati dengan seyum yang tak lepas-lepas dari bibirku.
Aku langsung mengambil handuk menuju kamar mandi diujung timur kamarku. Sungguh hari yang melelahkan setelah itu aku langsung merebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Aaaaa melegakan sekali punggung yang terasa mau patah ini akhirnya bisa ku istirahatkan juga. Aku mulai menutup mata menuju alam mimpiku.
Pagi telah tiba sinar mentari masuk melalu celah jendela yang langsung berhadapan dengan ranjang tempat tidurku. Hal itu memeksaku untuk membuka mata karena sinar matahari yang begitu menyilaukan. Tak lama setelah itu suara mama  mulai terdengar dari balik pintu kamarku.
“ Angal bangun nak” kata mama sambil membuka pintu kamarku.
“iya ma angal sudah bangun kok ma”
“cepat mandi sayan papa lagi nunggu kamu dimeja makan biar kita makan bareng”
“iya ma”. Dengan nada yang masih serak.
Setelah semuanya beres aku pun langsung menemui papa dan mama dimeja makan. Oooo sunggu suasana yang kurindukan selama ini makan bersama keluarga yang tak perna aku lakukan 4 tahun terakhir ini.
                “lo ma kak Miko mana kok ngak ikut makan bareng”  ucapku penasaran.
                “ya tau sendirilah kak miko mu itu selalu pulang malam ngak tau kerjaanya apa makanya jam segini belum bangun juga “
                “biar Angal bangunin ya ma”
                “ terserah kamu kalo dia mau bangun” ucap mama agak jengkel
                Memang saudara laki-lakiku kak Miko ada  tipe orang yang keras kepala yang hanya mengikuti  apa yang ia inginkan saja. Dan hal itulah yang membuat papa dan mama agak jengkel dengan kelakuan kak Miko.
                “oh ya Angal bagaimana kalo kamu mulai saja bekerja di perusahaan papa”
Mendengar kata-kata  itu aku langsung menghentikan tanganku untuk mengambil segelas air putih. Di kepalaku mulai meingat misi yang harus dipecahkan yang sempat tak teringat lagi. Aku sangat shock karena kebohongan dan rahasia  akan terus seperti ini tanpa ada keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Aku sangat  takut mengecewakan mereka. Dan etah apa yang harus ku jawab untuk merespon pertanyaan dari papa.
                “eeeee maaf pa bukannya Angal ngak mau tapi  Angal udah rencanain kalo Angal mau buka usaha baru kecil-kecilan dulu. Angal mau mandiri”
                “ow bagus itu papa dukung kamu kalo butuh modal bilang aja sama papa.”
                “iya pa “.jawabku tegang
Setelah selsei sarapan aku pun langsung kamarku. Kuambil hp yang ku letakkan dilaci imeja riasku dan mengunci pintu kamar. Langsung ku pencet no 3 di hp itu orang terpenting bagiku yaitu atasanku yang sedari kemaren belum aku kabari.
                “hallo selamat pagi”  ucapku gugup
                “iya selamat pagi” ucapnya diseberang sana.
                “Angal…..” Ucapnya yang mengetahui aku yang menelponnya.
                “iya saya Angal”
                “oke beruntung kamu menelpon karena kamu harus mejalankan misi rahasia itu sekarang. Jangan sampai siapa pun mengetahui hal ini. Mungkin saya akan memberi kamu waktu selama 1 minggu untuk berkumpul dengan keluargamu. Setelah itu pecahkan misi pertamamu. Semoga berhasil” ucapnya tegas.
Mendengar hal itu aku muali was-was apa terhadap alasan yang akan aku  berikan untuk mama dan papa.
                Hari berjalan begitu cepat, seminggu pun berlalu. Dan kini harus ku jalankan misi pertamaku. Pagi harinya langsung kuatur semua barang-barangku tiket pesawat telah ada ditanganku. Dengan langkah yang pasti ku mulai menuruni anak tangga satu persatu dari kamarku dengan menyeret koper baju sedang. Langsung ku temui papa dan mama yang sedang asyik menon berita pagi diruang keluarga. Mereka sempat kaget melihatku membawa koper. Aku mencoba menjelaskan tentang alasan kepergianku keluar kota yang tiba-tiba. Akhirya alasan yang menurutku itu masuk akal kusampaikan kepada mereka.  Untungnya papa dan mama menyetujui dan mempercayai alasan yang ku buat-buat. Meski berat harus ku katakan demi misi itu.
                “ya sudah kalo memang kamu ingin mandiri, ingin membangun usaha sendiri,  papa ngak larang walupun semua yang papa tawarkan kamu tolak. Tapi tetap papa akan bantu kamu kalok memang ada kesulitan nantinya. Hati-hati nanti disana jaga diri.” Ucap papa agak kecewa
                Buru-buruku naik mobil yang akan mengantarku kebandara. Waktu terus berjalan. Sekarang  waktu menunjukkan pukul 10.00 siang dan aku telah sampai dikota tujuanku kota kembang, Bandung. Segera kucari alamat rumah yang akan menjadi tempat tinggalku nanti. Setelah beberapa lama aku menemukan sebuah rumah kontrakan yang berada dipusat kota yang sangat ramai dan bising. Ku coba memasuki rumah yang berdebu yang sepertinya sudah lama tak dihuni itu. Kuberanikan diri membuka pintu dengan kunci yanga ada ditanganki. Dan ketika ku buka aku sangat kaget setelah melit apa yang ada dirumah itu. Semua ruang tertata rapi  meja korsi  dan barang-barang lainnya. Tak disangaka tampak depan sangat menyeramkan tapi ketika dibuka berbanding terbalik. Aku tak mengira atasanku sangat memesiapkan semuanya untu misi ini.   Aku pun mulai memeriksa satu persatu ruangan yang ada dirumah itu. Setelah aku lihat  sebuah kamar yang kemungkinan akan menjadi kamarku , disan aku melihat selembar kertas yang diletakan diatas meja. Langsungku ambil dan kubaca setiap tulisan yang ditorehkan lengkap dengan kode-kode rahasia.
 Seperti detektif pada umumnya aku berhasil memecahkan kode-kode yang  dimaksud. Tak disangka dirumah sekecil ini terdapat ruang rahasia yang berda  tapat dibawah  pijakan kakiku . Wow hal yang mustahil. Kucoba langakan kaki menuju pintu ruang  rahasia itu. Hati-hati kuhitung langkahu satu,dua ,tiga ya tepatnya disini hatiku berbisik. Sebanyak tiga langkah seperti yang dituliskan disana aki melangkahkan kakiku dari tempat ku berdiri tadi. Aku melai meraba-raba lantei untuk menemukan cara membuka pintu. Disana muncul  tombol-tombol angka yang membut ku bingung. Segera ku periksa satu persau tulisan dikertas yang kugemgam saat ini. Disana dituliskan password dan aku langsung memasukan password tersebut. Dan sreet!!!! Pintu itu langsung terbuka. Kuturuni anak tangga sutu persatu. Disana tampak sebuah lemari besar yang entah isinya apa. Aku sangat penasaran dengan isinya. Buru-buru aku membuka dan setttttt semua alat yang kubutuhkan telah tersedia disana termasuk alat-alat penyamaranku.
Setelah memeriksa semuanya akupun langsung naik meninggalkan ruang misterius itu. Segera ku ambil koper pakain yang ku geletakkan  diruang utama menuju kamar tidurku. Ku merebahka tubuh ini  diatas ranjang yang sedari tadi tak kuistirahatkan. Aku harus mempersiapkan semua untuk memulai misi rahasia ku besok , ucapku dalam hati.
Hari yang dinanti-nanti. Segera ku bangun  untuk mempersiapkan semuanya. Langsung kukenakan pakain penyamaranku sebagai wanita tomboy dengan gaya yang urak-urakan. Pagi ini tujuan utama ku sebuah gedung kosong disudut kota yang biasa digunakan sebagai tempat transaksi jual beli narkoba atau sejenisnya. Misi ini harus ku selesaikan untuk mengetahuai otak terbesar yang akan bertanggung jawab atas semua ini.
Langsung ku hentikan sebuah taxi yang melintas dihadapanku.  Kuperintahkan supir taxi untuk mengantarku ke alamat yang kutuju. Sekitar jarak 50 m aku menghentikan taxi yang kutumpangi. Aku langsung menuju lokasi yag dituju. Suasana sangat sepi dengan hati-hati aku berjaan melewati semak-semak menuju gedung tersebut. Tapi seketika langkah ku berhenti setelah melihat beberapa oknum yang sibuk melakukan taransaksi juae beli narkoba. Aku memilih untuk memperhatiaknnya dari semak-seamak yang agak dekat dengan gedung tersebut.
Tiba- tiba seseorang menarik tangaku secara kasar. Serentak aku langsung menoleh dan melihat wajah yang sangat asing yang berada didepanku. Razia ucapku. Gawat aku tertangkap dalam hatiku. Aku berusaha kabur namun hal itu mustahil karena polisi telah mengkrumuniku. Aku diseret  secara paksa kekantor kepolisian bersama oarang-orang yang kulihat tadi digedung. Aku mencoba memberikan panjelasan panjang lebar kepada polisi  yang menarikku. Namun  mereka tetap tak memprcayaiku. Begini ternya rasanya bisikku dalam hati.
Setelah dikantor polisi aku segera diperiksa dan melakukan tes-tes yang akan membuktikan aku seorang pengkonsumsi atau tidak. Setelah 4 jam terlawati aku langsung dibebaskan karena tidak ada bukti-bukti yang menunjukkanku sebagai pengedar atau pun pengkonsumsi narkoba. Ya jelas tidak aku ada disana karena aku ingin menyelidiki kasus tersebut ucapku dalam hati dengan sedikit geram.
Aaaaaa aku pun segera pulang untuk menyusu trategiku yang baru. Awalan yang buruk bagiku. Namun hal itu buru-buru aku hilangkan dari kepala ku dan mulai menyusun rencana baru.
Perintah-perintah dari atasan ku yang dikirim melalui dokumen rahasia sudah kuterima. Lokasi baru yang akan kutuju pun telah tertulis di dokumen ini. Segera ku persiapkan semuanya. Tepat pukul 12.00 malam aku keluar dengan mengendap-endap seperti pencuri. Karena orang-orang disekitar rumah kontrakanku mengenaliku sebagai Angal yang sopan, ramah  bekerja sebagai kariawan diperusahaan ternama.
Aku telah menemikan lokasi yang  dimaksud dalam dokumen tersebut. Segera kuturun dari motorku untuk melihat yang terjadi disana. Sebuah club malam yang ramai dipadati oleh orang-orang setres yang memilih bersenang-senang dengan wanita-wanita jalang dan minuman –minuman keras daripada dengan keluarga sendiri. Melihat itu semua aku langsung duduk disalah satu korsi kasong disudut rungan. Pelayan langsung mentawari minuman. Untuk menghilangi kecurigaan akupun langsung mengambilnya walaupun minuman tersebut tak kusentuh sedikt pun. Padanganku langsung terfocus kepada laki-laki paruh baya yang mengenakan jas hitam yang sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya . Aku menemukan oranga yang aku cari, ucapku dalam hati. Aku memperhatikan setiap gerak-geriknya yang mencurigakan. Tak sediktpun aku lengah karena orang tersebut merupakan focus utamaku datanag ketempat setan seperti ini . Yang harus kuselidiki apakah dia otak dari semua hal ini.
Pukul 3 pagi akhirnya orang yang dicurgai dalm misiku ini  meninggalkan clab malam tersebut. Dan aku telah menemukan sebuah fakta  bahwa ia hanya pengedar yang ditugaskan untuk memberikan barang-barang haram tersebut kepada konsumen. Sebuah fakta yang mulai terungkap yang hampir terpecahkan.
Aku segera pulang kerumah untuk melaporkan sebujah rahasia yang berhasil kudapatkan pada misiku kali ini kepada atasanku. Buru-buru langsung kutarik gas sekencang-kencangnya tak sabar untuk melaporkan apa yang kudapat kali ini. Namun tak semudah yang aku bayangkan diperjalanan aku menyerempet  sebuah motor yang ada didepanku dan brakkkk kami terjatuh. Untunglah tidak ada luka  serius baik aku maupun orang yang ku tabrak. Akupun segera bangaun mengangkat motorku. Langsung kuhampiri orang yang kutabrak untuk meminta maaf dan memberikan uang ganti rugi. Namun ketika aku mengangkat kepalaku, aku tereranga dengan wajah kaku  didepanku. Sebuah wajah yang menggambarkan karisma yang sempat membuatku tertegun. Namun setelah beberapa lama aku mulai mengingat wajah itu. Sepertinya aku pernah melihatnya. Namun otakku lumpuh tak dapat mengingat hal itu. Laki-laki itu juga sepertinya heran melihatku seorang wanita yang berpakain layaknya laki-laki dan kelur pada jam yang tak sewajarnya. Pasti dia mengira aku adalah wanita nakal yang selalu berbuatonar.
Tak memedulikan semua itu aku segera meminta maaf. Belum sempat aku mengucapkan kata-kata itu laki-laki tersebut langsung berlalu didepanku tanpa mengatakan satu kata pun. Eh dasar laki-laki sombong ucapku. Aku langsung menancap gas untuk pulang kerumah.
Sesampainya aku dirumah dan tanpa menunggu lama aku langsung menuju ruang rahasiaku. Tak ku horaukan bekas lukaku. Langsung ku ambil ponsel yang kuletakakn diatas meja kerja untuk menelpon atasanku.
“ hallo selamt pagi, saya ingin melaporkan bahwa misi hampir selesia dipecahkan. Pusat perdagangan itu terletak di Bangkok dan orang yang di curigai itu adalah pengedar  yang memberikan barang tersebut kepada konsumen disini.” Ucapku tegas.
“oke laporan saya terima. Misi selanjutnya akan dikirim melalui dokumen rahasaia seperti waktu lalu. Selamat” ucapnya langsung mumutuskan kontak.
Aaaaa aku pun segera keluar dari ruang misterius milikku. Ku coba menutup mataku yang sedari malam kupaksa untuk tetap terbuka. Memfocuskan seluruh perhatianku untuk memecahkan rahasia dari misiku. Untuk  menunggu perintah selanjutnya ku istirahatkan otot-otot yang tadinya tegang dan mulai relaks seperti posisi semula. Perlahan kesadarnku mulai hilang menuju alam mimpiku.
Terdengar suara yang beitu  nyaring di telingaku. Suara yang tak asing lagi bagi ku  yaitu suara alaram yang ku pasanga untk membanguniku. Segera kutari ponselku yang berada persis diatas meja samping ranajngku. Sambil mengucek- ucek mata aku langsung mematiakn alaram. Hah aku menghempaskan nafasku. Merasa lega terhadap apa yang ku dapatkan tadi malam.
Hahaha sekarang baru sadar sejak tadi malam aku belum mengisi perutku ini. Pekerjaanmu memang sulit tapi jangan membunuh dirimu sendiri dengan tidak mengisi perutmu ini, ucapku pada diri sendiri seperi orang gila. Aku pun langsung mandi dan berganti pakaian mencoba mencari sesuatu yang dimakan. Aku pun meninggalkan rumah dan langsung menancap gas motorku. Sampai disebuah restoran disimpangan jalan aku berhenti mencoba mencicipi makanan-makanan yang menjadi ciri khas derah ini. Aaaa enaknya ucapku dalam hati melihat pelayan restauran yang membawakn makanan yang aku pesan. Aku langsung memakannya dengan lahap.
Tak jauh dari mejaku. Aku melihat seorang laki-laki yang mengenakan seragam polisi  yang memperhatikanku dari tadi dalam waktu yang cukup lama. Dan ketika menyadari hal itu aku sedikit malu dengan pola makanku tadi. Aku mencoba terseyum hambar ketika ku dapati dia sedang memperhatianku. Setelah melihatnya berulang-ulang  aku mulai teringat sesuatu.
Dan mulai terlinta dikepala ku tentang kejadian tadi pagi. Aku langsung menghampirinya dan menannyakan sesuatu yang mengganjil dikepalaku sejak kejadian tadi pagi.
“eeee maaf apa banar anda yang saya serempet tadi pagi” ucapku sok polos
“ saya tidak tau” ucanya ketus
Namun aku melihat luka ditangan dan dahinya  yang memperkuat semua  itu .
“ ow maaf berarti saya salah orang” ucapku sopan sambil kembali duduk ke mejaku.
Apa mungin dia tak mengenaliku karena pakaian yang ku pakai saat itu sangat feminim berbanding terbalik dengan apa yang aku kenakan pagi itu. Setelah beberapa menit ia telah menyelesaikan makannya dan langsung berlalu didepanku. Tapi tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berbalik kearahku dan berkata.
“lain kali hati-hati dan sebaiknya wanita tidak keluar pada jam itu” katanya sambil berbalik badan.
Mendengar kata-kata itu aku terperanga ternyata yang aku serempet tadi pagi itu adalah polisi dan polisi itu juga yang sempat menangkapku pada saat razia digedung itu. Astaga aku baru mengingatnya sekarang. Buru-buru aku keluar untuk melihat polisi itu namun ia sudah pergi. Sebenarnya aku ingin meminta maaf . Tapi ya sudahlah semua itu sudah terjadi. Sebelum ia pergi aku sempat melihat ID cart nya, tapi aku tidak melihat bahwa ia polsi di id di cart nya. Disana yang kulihat tulisan Arya Putra nama yang begitu singkat dan sangat umum. Aku tertawa geli mengingat nama itu.  Orang yang mempunai nama ini begitu dingin dan berkarisma dan terlihat 2 tahun labih tua dariku. Cukup menarik ucapku genit. Aku kembali kedalam restoran untuk mengambil tasku.
Setrleh aku menyelesaikan makanku, aku langsung melangkahkan kakiku keluar menuju keparkiran. Dan tak disangka polisi yang kulihat tadi ada disana dan entah menunggu siapa. Aku tak langsung menyapa. Dan tiba-tiba ia berkata
“ saya minta pertaggung jawaban anda” ucapnya sok padaku
Memdengar hal itu aku langsung berbalik
“iya  saya akan bertanggun jawab, berapa kerugian anda saya akan menggantinnya.
“apa…. anda pikir semua ini bisa diganti dengan unag. Ini masalah serius saya akan menunutut anda”
“hai…hai… “teriakku yang terus meninggi dan dia terus berjalan tanpa menghiraukan terikanku.
Dasar liak-laki sok berkuasa ucapku geram. Aku langsung tancap gas dan pulang kerumah. Kududuk disova yang berada diruang tamu sambil kuperiksa ponselku namun tidak ada telon atau pesan mengenai misiku selanjutnya. Ah aku bisa bersantai untuk saat ini. Dan tak beberapa lama ponselku berdering. Muncul nama Naila dilayar ponselku. Menyadari hal itu buru-buru ku mengangkatnya.
“hallo” suara seseorang diujung sana, suara yang hampir tak perna kudengar lagi semenjak aku memiliki misi ini.
“hallo” ucapku dengan penuh kegembiraan.”
“emmmm tau ngak sih aku kangen bangat sama kamu”
“sama aku juga, bagaimana kabarnya ? Baik?”
“ya seperti yang kau tau aku selalu bahagia walaupun ada hal-hal yang menyedihkan”
“hahahaha” tawaku geli
“ by the way baagaimana nih sekarang udah punya yang cocok belum, sekarang kamu udah 24 nih wajarkan aku nannya gitu?”
                “wajar-wajar aja sih Nai tapi belum ada yang cocok”
                “ bagus tu gue juga punya teman cowok dia juga belum ketemu sama orang yang cocok untuk dia jadi gue kasik deh pin bb lho ke dia”
                “hah apa lho comblangen gue, kok ngak bilang-bilng sih” ucapku dengan nada kemarahan
                “iya …… udah gue kasik, iya udah ya gue tutup”
Dengan rasa tak bersalahnya ia langsung memutuska kontak.
                “dasar” ucapku kesal
 Dan entah kenapa sudah seminggu ini tidak ada kabar lagi tentang misi rahasia yang harus kupecahkan itu. Dan mengenai polisi itu aku jadi sering ketemu dan ngobrol dengannya. Berawal dari pertemuan yang kurang baik itu. Ternya penilainku terhadap dia selama ini salah. Laki-laki yang kuanggap paling sombong dan dingin ini ternya sangat ramah dan sangat  menghargai orang lain.  Akhir-akhir ini juga aku sering sekali bbm an dengan dia. Menceritakan pemgalaman satu sama lain. Tapi entah mengapa aku  lebih yaman mengangapnya sebai sahabat bukan sebagai lelaki yang sedang dekat denganku. Namun dia meunjukkan persaan lebih terhadapku. Aku hanya meresponnya dengan persan yang datar. Dan entah mengapa  sedikit- demi sedikt ada perasaan suka dalam hati ku, tapi aku tetap mengangapnya sahabat yang selau menghibur dan memberiku semangat.
                Pukul 12 malam. Sebuah pesan rahasia masuk diponselku.  Aku pun terbangun dan langsung membaca isi pesan tersebut. Misi selanjutnya  adalah menghadiri sebuah pesta  makan malam yang dihadiri oleh orang-orang  yang menjadi otak dari misi yang harus kupecahkan ini.  Hal pertama yang ku lakukan adalah menyiapkan penyamaranku sebagai sorang wanita yang terlibat dalam penyelundupan narkoba. Untuk menghilangkan kecurigaan tentunya aku juga harus membawa pasanganku  kesana. Entah siapa karena aku kurang dekat dengan orang-orang.  Aku berusa memutar otak ku untuk menemukan orang yang tepat yang dapat membantuku. Dan sebuah nama terlintas dikepala ku Arya Putra. Apakah aku harus menggunakannya untuk membantu misi ini. Otak kupaksa untuk berpkir menemukan cara yang tepat. Akhirnya aku berspikulasi untuk menggunakan Arya dalam mengungkapkan misi ini.  Dengan resiko aku harus membongkar statusku sebagai detektif.
                Semua telah matang kupikiran sejek tadai malam. Pikul 09.00 aku segera menelpon Arya yang menurutku dia tidak sibuk sekarag , telepon tersambung
                “hallo Arya bisa minta tolong ngak kerumahku sekarang” tanyaku singkat
                “emmm bis,a aku juga lagi ngak sibuk kok sekarang”
                “oke aku tutup ya”
Aku mondar mandir menunggu kedatangan Arya. Sampai terdengar suara motor yang tak asing lagi bagiku. Langsung ku keluar untuk melihatnya dan ternyata benar orang yang kutunggu sejak tadi.
                “ada apa Angal” ucapnya degan nada khawatir
                “ada yang ingin aku omongin serius  “ jawabku
                “tentang apa?”
                “ini rahasia jadi aku gak bisa omongin disini” jawabku lantang
Aku segera menarik tangan Arya menuju ruang rahasiaku. Tersirat raut wajah yang aneh yang ditampakkan wajahnya.  Mungkin hal ini tak pernah iya kira sebelumnya. Iya mengikuti apa yang aku katakan. Sesampainya diruang rahasa itu ia mencoba memutar bola matanya melihat setiap sudut ruang yang banyak dipenuhi rak-rak buku. Iya semakin bingung dengan apa yang aku perlihatkan padanya. Sulit ditebak rahasia apa yang akan ia dengar  dariku.
                Aku langsung mempersilakannya duduk dan bicara empat mata tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya
                “apa semua ini” ucapnya bingung dengan  ribuan pertanya yang ingin ia tanyakan diotaknya
Aku mulai menarik nafas membongkar siapa diriku.
                “aku membawamu kesini untuk memberi tahumu tentang rahasaia terbesar dalam hidupku. Aku hanya menceritakan ini kepadamu karena menurutku kamu orang yang paling aku percaya untuk menjaga rahasia ini. Sebenarnya kedatamgan ku kekota ini adalah untuk memecahkan sebuah rahasia  perdangan narkoba, siapa yang menjadi otak dari semuanya. Dan dalam menjalankan misi ini aku memerlukan seseorang untuk membantuku.
                “jadi….. kamu”
                “iya aku adalah seorang detektif”
                “ sudah kuduga melihat gerak gerikmu serta penampilan aneh pada dirimu”
                “jadi bagaimana apakah kamu bisa membantuku”
                “sebuah misi yang cukup besar, apa kamu tidak takut resiku yang akan terjadi” ucap Arya khawatir.
                “aku telah mempertimbangkannya sejak dulu. Lalu bagaimana kamu bisa membantuku atau tidak”
Setelah beberapa lama iya berpikir akhirnya ia bersedia untuk membantuku. Aku mulai menjelaskan trategi- trategi yang akan dilakukan nantinya, lokasi dan hal- hal lainya. Setelah itu selsai kujelaskan tiba-tiba ia langsung meraih tanganku, refleks aku langsung berbalik. Ia mengatakan seseutu yang membut mataku terbelalak lebar.
                “semua ini aku lakukan demi kamu. Aku ngak ingin kamu kenapa- napa.” ucapnya lembut.
Kata-kata itu mampu melupuhkan saraf otakku untuk tak berpikir lagi. Entah apa yang harus aku lakukan aku hanya mampu  meresponnya dengan menganggukkan apa yang ia katakan. Melihat ekpresiku yang tegang ia langsung mengacak-acak rambutku sambil memperlihatkan seyum bahaginya kepadaku. Suasana hati agak sulit ditebak. Jantungku rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Takut ada hal aneh yang ditunjukkan mukaku nanti buru-buru kualihkan pembicaraan. Sedangkan dia hanya terseyum dengan apa yang aku katakan.
                “ingat nanti jam tujuh” aku mencoba meingatkan rencana yang sudah kami sepakati.
                “iya bawel” ia menjawabku  sambil berlalu dengam motornya dihadapn ku.
Melegakan sekali menemukan orang yang dapat dipercaya yang dapat membantuku. Aku tak sabar menyelesaikan misi ini. Sebelim pukul 15.00 aku mulai sibuk mempersiapkan semuanya terutama penampilanku yang harus terlihat anggun  yang bisa kumanfaatkan untuk menarik perhatian mendapatkan informasi yang aku butuhkan.
                Tiba  saat yang kunanti-nanti. Aku telah siap denga gaun hitamku. Tapat pukul  18.30 Arya dng menjempuku dengan tail yangmurutku sangat menarik mengenakn jas itam memperlihatkan karimanya.
                “bagaimana siap untuk misi ini”. ucapnya padaku.
                “yaa aku siap
                “sebelumnya boleh aku berpendapat, kau sangat cantik dan begitu anggun.”
Diwajahku mungkin muncul merah merona yang sanggup membuat Arya tertawa geli karena hal itu. Muncul hal-hal yang menurutku tak penting diotakku  segera kubuang jauh pikiran itu dan mulai terfocus pada tujuan uatamaku. Tanpa menunggu lama aku langsung naik kemotor  milik Arya.
 Akhirnya kami tiba disebuah hotel yang menjadi tempat pesta itu berlangsung. Tak pernah diduga teyata banyak sekali orang-orang yang datang dipesta ini sampai- sampai orang- orang berdesakan masuk.  Dan aku terhimpit dikerumunan orang –orang tersebut. Melihat hal itu secara spontan Arya menarik tanagku kesudut ruangan dan melindungiku dengan tubuhnya  dari kerumunan orang banyak. Aku sempat tertegun melihat respon Arya yang seperti itu. Jantungku berdetak sangat cepat sampai mencapai titik maksimalnya, mukaku tersa panas sekali. Kenapa aku menunjukkan respon yang memalukan ini pikirku. Dan secara tak sengaja kapalaku mengenai  dada Arya menghabiskan  ruang  yang tersisa diantara  kami  karena orang yang terus mendesak  dan mendorong kami agar mereka bisa masuk.  Dapat kurasakan setiap hembusan nafasnya membuatku bertambah canggung. Ku mencoba memdengarkan irama jantung Arya yang sangat cepat seperti apa yang aku rasakan. Hampir aku melupakan tujuan utamaku datang ketempat ini. Segera aku tersadar dan langsung mengajak Arya untuk menuju  salah satu meja yang disediakan.
Seperti yang direncana kami mulai membagi tugas memperhatikan setiap orang a dicurigai. Dan takjauh dari tempat duduku datang seseorang yang sepertinya sangat mereka hormati. Orang yang mengadakan pesta merih ini. Orang yang mereka nantikan. Aku mulai memperhatiakn gerak- gerinya. Setelah beberapa lama aku mengenali oarang tersebut.
“kak Miko ucapk tapercaya.
Apakah yang menjadi otak dari semua ini adalah kak Miko. Refleks badanku lakangsung lemas dan kepala ku mulai pusing tidak percaya dengan kenyataan yangaku dapati. Lidahku kaku tak mampu berkata sepatah katapun. Rasanya pikiranku lumpuh mendapati saudara ku sendiri yang menjadi otak dari semua rahasia ini. Ingiku mengelak namun bukti memperlihatkan kebenaran. Aku hanya mampu meneteskan air mataku.
                Akhirnya kucoba mencari kenaran tentang semua itu. Ku beranikan menyapa seorang lelaki  yang sangat mengetahui kak Miko. Walupun aku tahu resikonya, orang-oranng  tersebut pasti akan memperakukan ku seperti wania-wanita murahan. Namun aku tak peduli lagi demi mendapatkan suatu kepastian yang mengganjal dalam hatiku. Mereka mempersilakan ku duduk dan untungnya kak Miko tidak melihatku, ia sibuk ngobrol dengan tamu-tamunya. Aku mulai berbicara dengan mereka menannyakan semua yang mengganjal dalam pikiranku. Setelah mendapatkan sebuah pernyataan yang menguatkan semua dugaanku, kepalaku  bertambah sakit tak mampu menerima semuanya. Dan seperti yanga kutakutkan sebelumnya laki-laki  berengsek itu langsung merayu dan membelaiku. Aku bingung tindakan apa yang harus kulakukan untuk menyelamati diriku dari semua laki-laki berengsek ini.
                Dan set, tiba-tiba sebuh jas hitam mendarat dipundakku. Entah siapa laki-laki pemilik jas tersebut yang menarik tangan ku keluar dari pesta tanpa sempat aku melihatnyat. Hal itu hampir saja membuat keributan dan tentu saja hapir membongkar penyamaranku yang ku susun sejak jauh hari. Karena aku merasa terancam segera kusingkirkan tanganya yang menggenggam erat tanganku. Ketika aku mengangkat kepalaku, aku terperanga ternyata itu Arya dengan exspresi muka yang sangat tidak enak.
                “Arya kenapa sih kamu seperti  ini, hampair saja terbongkar. Semua ini bakal sia-sia, hati-hati dong sebelum kamu lakuain sesuatu” ucapku dengan sangat berapi-api.
                “ow kalo begitu aku harus membirkan mu disentuh dan dibelai oleh laki-laki itu, aku harus membiarkan semua itu terjadi hah !!!!!!!. Jawab , tidak semestinya kamu lakukan hal itu, merelakan tubuhmu disentuh oleh mereka  walaupun pekerjaanmu ini sangat penting yang harus merelakan apapun tapi tida dengan hal itu. Aku kecewa dengan sikap mu ini”. Ia langsung meninggalkanku begitu saja. Aku bingung orang yang kuharap menjadi teman curhat sekaligus memberikan solusi dari masalah ini  kini membenciku. Aku merasa bebanku semakin banyak. Entah apa yang harus aku lakuakn menerima kenyataan itu sudah sangat sulit bagiku apalagi bertambah dengan seseorang yang jujur sangat aku suka juga membenciku. Hatiku bimbang apa aku harus meneruskan misi ini atau berhenti sampai disini.
                Aku mulai merasakan keringat dingin yang membasahi tubuhku . Rasanya kakiku tak kuat lagi menopang tubukku kepala yang sedari tak berhenti berdenyut. Kulihat sekelilingku  tidak ada taxi atau apapun yang bisa kutumpangi untuk sampai kerumah. Sampai akhirnya dari kejauhan terlihat sorot lampu mobil yang tiba-tiba berhenti dihadapanku.
                “ hai nona kenapa sendirian  ayolah masuk biarku antarkan “ ucap laki-laki yang menggodaku tadi.
                “ya teriam kasih  aku sedang menunggu jemputan” jawabku sambil menahan rasa sakit dikepalaku yang membuat pengelihatan ku kabur dan mungkin beberapa menit lagi aku akan terjatuh.
                “ayoalah “ajaknya paksa
Tiba- tiba sebuah motor langsung berhenti dihadapanku, mator yang sanga aku kenali.
                “Arya “ ucapku dalam hati ternya dia tidak meninggalkanku.
                Ia pun segera menyuruhku naik dan meninggalkan laki-laki berengsek itu. Aku merasa bersyukur karena Arya tetap melindungku walupun aku sempat mengecewakannya.
                Entahlah mungkin ia masih marah terhadapku. Ia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi yang membuatku sangat takut. Namun aku tetap bisu membirkannya melampiaskan semua amarahnya. Aku hanya mampu  terdiam dan memeluknya untuk memastikan agar aku tidak jatuh karena rasa sakit dikepalku yang semakin berdenyut-denyut. Menyadari ketegaganku Arya langsung memperlambat kecepatanya. Mungkin ia menyadari cengkraman tanganku yang semakin kaut memeluknya.
                Ketika sampai di depan rumah ku, aku langsung turun tanpa mengatakan sepatah katapun kepadanya. Bukan karena aku marah tapi  rasa sakit dikepalaku ini tak bisa kutahan lagi untuk cepat-cepat aku berbaring. Mungkin rasa bersalah menyelimuti hatinya malam ini.
                Dan tak lama setelah itu tepatnya pukul 11.00 malam ia kembali datang kerumahku. Entah apa tujuanya. Aku yang hanya mampu terdiam mendengarkan  setiap kata yang ia ucapakan. Apalagi setelah melihat pintu rumah yang tak tertutup. Aku mendengar langkah-langkah kaki yang terburu -buru menghampiriku. Dan secara sepontan  ia langsung merangkulku setelah melihatku dalam kedaan yang tak berdaya tergulai lemas ditempat tidurku menahan sakit.             
                “maafkan aku semua ini karena sikap egoisku”ucapnya menyesal.
                Entah berapa lama akhirnya aku sadar. Kulihat sekelilingku yang merasa asing bagiku.
“kau sudah siuman “terdengar suara laki-laki yang sangat aku kenali.
“emmmm “jawabku lemas
“istirahatlah jangan pikirkan sesutu yang membuatmu bertambah sakit” ucapnya halus
Sudah emat hari berada dirumah sakit  rasanya membosankan sekali. Dan untungnya dihari kelima aku telah diijinkan keluar. Tak sabar rasanya untuk memulai  misiku kembali sebagai seorang detektif. Namun setelah mengingat sebuah fakta dari misiku itu semangatku menjadi turun. Aku mulai bingung apakah hal ini harus kuceritakan kepada papa dan mama. Tapi jika kuceritakan hal ini pasti membuat mereka kecewa dan hal itu juga akan membuat  rahasiaku terbongkar bahawa aku adalah seorang detektif. Aku tak ingin mengambil segala resiko itu. Akhirnya kutekatkan untuk menyembunyikan masalah ini termasuk pada Arya. Ingin sekali aku berbicara dengan kak Miko. Menanyakan semua rahasia ini.
Satu hari berlalu sebuah nomor yang tak kukenal masuk keponselku. Setelah berpikir aku langsung mengangkatnya
                “ hallo ini siapa “ucapku penasaran
                “dengarkan !!! hentikan misi ini tutup mulutnmu mengenai rahasia yang kamu dapatkan atau tidak,  kamu akan menyesal” ucapnya ketus diujung sana
                “hai…. hai … siapa ini” dengan agak gemeteran
                Setelah mendapat telepon misterius itu. Segera ku telpon Arya tentang apa yangku dapatkan pagi ini. Arya pun langsung kerumahku  dan membantuku menemukan orang yang menerorku.
                 melihat dari bahasa yang digunakan berarti ia telah mengetahui bahwa aku ini detektif serta misi yang sedang aku jalankan sekarang” ucapku dengan sangat serius
                “iya  aku rasa juga seperti itu”
                Kami mulai mengotak atik komputer yang berada diruang rahasia milikku mencoba melacak nomor misterius itu.
                “aku menemukannya “ ucap Arya kegirangan
                “dimana….?”
Sekarang pemilik nomor ini sedang berada disebuah hotel  yang tak jauh dari sisi, sepertinya ia berada dilatai 10 dengan nomor kamar 345. Segera ku berlari menuju hotel yang dimaksud. Kutancap gas sekencang-kencanganya dan Arya tetap berada dibelakang ku. Aku telah sampai di sebuah hotel yang dimaksud. Segera ku naik live menuju kelantai 10. Dan untungnya orang yangku curigai pemilik nomor misterius keluar dari kamaraya 345. Menyadari hal itu segera kubersembunyi dibalik sebuah tanaman hias yang cukup rimbun. Tak ada seorangpun yang mengawalinya ia haya seorang diri.
                tapi ketika ku perhatiakn dengan saksama ternya orang yang sangat dekat denganku.
“kak Miko “ucapku.  Sedikit berbisik
 lagi-lagi hal itu membuatku shoc. Entah bagaimana semuanya telah jelas bahwa kak Miko adalah otak dari semua hal ini. Dan tak kusangka ia mengatakan hal sekasar itu padaku. Mengancamku dengan melakukan hal-hal yang akan kusesali nantinaya. Mengenai papa dan mama aku tidak berani mengatakanya. Aku pun pulang dengan terpontang panting. Tak ku hiraukan apa yang dikatakan  Arya. Aku langsung menancap gas pulang kerumah.
Aku harus mengungkapkan semua rahasia ini walaupun berat aku harus jalani karena ini resiko yang harus aku terima walaupun itu saudara ku sendiri, itu tekatku.
Tiga hari dari kejadian itu aku mendapat berita duka . Dan hal itu sangat kusesali kerena semenjak aku ingin membongkar rahasia  ini aku sangat jarang meluangkan waktu untuk keluarga.  Dan ketika sebuah berita duka menghampiriku , baru aku sadar bahwa sejenak aku melupakan mereka. Sungguh pahit ternyata papaku meninggal karena serangan jantung. Segera ku tinggalkan misi yang ku sibuk akhir-akhir ini. Kuambil koper bajuku dan langsung menuju bandara.
Sesampainya di Jakarta aku melihat kerumunan orang yang ramai memadati rumahku. Kulihat bendera kuning yang dipasang dIpagar-pagar rumahku. Segera ku berlari menyusup diantara kerumunan banyak orang  menuju kedalam rumah. Kulihat tubuh yang terbujur kaku tak bernyawa dikerumuni banyak orang yang histeris karena hal itu. Segera kupeluk tubuh itu. Aku mengis tak percaya terhadap semua yang terjadi. Mama mencoba menenangkan ku, namun kesedihan ini tak mampu kubendung lagi.
“ pa… pa…. Kenapa papa pergi, jangan tinggalin kita pa” ucapku histeris
“sudah nak biarkan papamu tenang . Ikhlaskan mungkin ini cobaan  yang diberikan untuk kita nak, tabah” ucap mama mencoba menasehati.
Seminggu sepeninggalan papa susana menjadi semakin sepi biasanya ada canda tawa yang meramaikan suasana rumah tapi sekarang susana rumah menjadi mati . Orang yang berada didalamnya terasa ikut mati tak bergairah lagi. Apalagi denganku kehilangan orang yang disayang . Jika ku ingat saat –saat itu, saat papa masih hidup membuatku sering meneteskan air mata. Dimana saat bahagia itu namun  kini tak ada lagi dan berubah menjadi duka.
Sudah sekian lama baru kusadari bahwa kakak kandungku kak Miko tak perna kulihat batang hidungnya  ketika papa meninggal. Sesuatu mulai terpikir oleh otakku. Karena tak mungkin ada anak yang tak mau melihat orang tuanya untuk terakhir kali walupun sesibuk apapun dia. Apa mungkin  semua fakta yang aku temukan ini adalah kebenaran yang terjadi. Oh tuhan aku harus bagaimana, mengungkapkan dan memenjarakan  kakak kandungku sendiri ? Hah, hal yang mustahil.
Akhirnya aku memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada mama. Namun jawaban mama adalah jawaban yang tak ingin ku dengar  “ mungkin ia sibuk dan tak sempat datang” jawaban yang memuakkan. What the hell. Apa semua ini hanya sebuah lelucon biasa seenaknya ia mengeluarkan kata-kata itu tanpa tersirat rasa berdosa dalam dirinya. Lagi-lagi jawaban yang tak ingin ku dengar dari mamaku.
“ sudah jangan dipikirkan itu adalah pilihan yang ia buat”
Apa ?????  Aku hanya mampu menunjukkan ekspresi tak percyaku pada mama. Entah kenapa dari nada bicaranya aku merasa mama kurang peduli dengan hal itu padahal itu adalah anak kandungnya sendiri. Hal yang sangat aneh.
                Sehari setelah itu, pagi-pagi aku langsung berpamitan dengan mama untuk kembali menyelesaikan misiku tapi bukan itu yang kukatakan pada mama. Aku mengatakan bahwa aku  harus mengurus usahaku karena sedah dua pekan ini aku tak masuk kerja. Dan dengan alasan ini mama sangat percaya denganku. Walaupun berat harus ku jalani , tak tega rasanya meninggalkan mama seorang diri walaupun disana ada pembantu rumah tangga yang menemaninya.  
                Langsung kuraih tangan mama dan menciumnya. Kutarik koper pakaianku secara perlahan menuju ke taxi yang kusetopkan barusan. Langsung kusuruh sopir taxi menuju bandara.
                Tak menunggu lama sekitar 2 jam aku telah sampai kekota tujuanku. Segera ku ambil koperku meninggalkan bandara. Disana aku melihat seorang laki-laki berkaca mata hitam yang berdiri tegak didepan bandara.
                “sepertinya aku mengenali dia” ucapku dalam hati
Karna tak yakin aku langsung melewati leleki yang berdiri didepanku. Dan ….
                “hai” lelaki itu menyapaku.
Aku sempat bingung karena aku sama sekali tak mengenalnya.
                “secepat itukah kau melupakanku. Tak ingat denganku atau kau pura-pura tak ingat. Kau tau aku sangat tersiksa dua pekan ini kau tak memberiku kabar sama sekali. Ku coba mencarimu kesemua tempat dikota ini namun apa, aku tak menemukanmu. Aku coba cari berita tentangmu namun hasilnya sama. Kau tau aku sangat kawatir dengamu. Tak sadar kau membuatku tersiksa  dengan menunggumu terlalu lama yang hampir membuatku gila. Kau tau aku sangat merindukanmu. Ucap laki-laki itu dengan  nada tinggi  sedikit bergetar.
 Setelah beberapa menit aku baru sadar ternyata itu Arya. Dan secara tak sadar Arya langsung menari tangan dan langsung memelukku. Denan keadaan ini jujur aku tak tau dengan apa yang kurasakan sulit untuk dijelaskan tetapi harus ku akui aku nyaman berada dipelukannya saat ini. Merasaka setiap hembusan nafas yang ia keluarkan. Apa lagi mendengar kata-katanya tadi sanggup membuatku meneteskan air mata.
                “maaf “ hanya kata itu yang mampu aku katakan saat ini
                “suuutttttt jangan seperti ini lagi. Aku lega setelah melihatmu. Ucapnya sambil membelai rambutku.
                “ sebenarnya selama dua pekan ini aku pulang ke Jakarta karena papaku meninggal. Itu membutku sangat shoc dan tak sempat memberi kabar. Ucapku dengan nada lirih sambil melepaskan pelukannya.
                “maaf aku terlalu egois untuk hal ini, aku terlalu memikirkan diriku sendiri tanpa mengeahui apa yang terjadi padamu. Aku turut berduka cita.” Ucapnya dengan penuh penyesalan
                “ya tak uasah disesali itu semua telah terjadi. Pertannyaan ku apakah kita harus berdiri disini seharian??” Mencoba memecah suasana tegang ini dengan guyonan.
                “haha maaf aku lupa sepertinya terbawa suasana” ucapnya sambil tertawa
 Aku dan Arya pun langsung menuju parkiran. Aku pun masuk kemobil milIk arya yang akan mengantarku kerumah. Tak sampai 20 menit aku talah sampai dirumah yang ku tinggali selama dua pekan ini. Segera ku ambil kunci rumah yang ku letakkan di tasku. Arya pun langsung memasukkan koper pakainku. Kulemparkan tubuhku keatas tempat tidur karena merasa lelah dengan perjalananku hari ini. Arya membiarkanku beristirahat dan ia keluar  untuk membeli makanan untuk ku.
                Tak lama setelah itu terdengar rington lagu yang tak asing lagi bagiku. Segera kuperiksa tas  untuk mengambil ponselku. Dilayar ponsel muncul nomor yang tak ku kenal. Tanpa menunggu lama aku langsung mengangkatnya.
                “hallo siapa ini” ucapkp penasaran
                “kau lupa dengan suara ini gadis manis”ucapnya dengan tawa
                “cepat katakan. siapa kamu ?”
                “kau tak perlu tau detektif bodoh, aku orang yang cukup dekat deganmu. Oh ada hal penting yang ingin aku katakan aku turut berduka cita atas kematian ayahmu. Aku sudah memperingatimu untuk menyimpan semua rahasia ini tapi kamu lebih memilih untuk menggali lebih dalam kasus ini. Janagan coba membongkar kasus ini atau tidak kau akan mendapat hal yang lebih menyedihkan lagi. ” ucapnya ketus
                “hai brengsek cepat katakan siapa kau” dengan nada sedikit berteriak namun hal itu percuma karena ia langsung memutuskan kontak. Kucoba menelponnya kembali namun hasilnya nihil nomornya tak aktif lagi.
                aku mulai memikirkan kata-kata yang diucapkan penelpon misterius itu. Sesuatu mengganjal dalam pikiranku . Semua ini berhubungan dengan kematian papa. Karena sulit menemukan jalan keluar akhirnya aku ceritakan semua yang di katakannya tadi pada Arya. Nomor misterius yang menelponku dan bernada ancaman. Aku tidak yakin siapa orang ini. Tapi yang terpikir dalam benakku adalah kak Miko namun hal itu tak mungkin terjadi mana mungkin ia tega membunuh ayah kandungnya sendiri. Tapi dari kata-katanya tadi itu sangat jelas sama persis seperti kata-kata yang diucapkannya saat menelponku waktu lalu . Berisi sebuah ancaman. Jelas sekali bahwa ia pelakunya walaupun itu bukan nomor telepon yang ia pakek saat itu. Melihat semua kebuntuhan ini aku memutuskan untuk mencari tau semuanya.
                Tanpa menunggu lama siang itu juga aku kembali lagi ke Jakarta. Mama sempat bingung dengan melihatku. Namun aku memberikan alasan yang cukup masuk akal yamg membuat mama percaya padaku. Segera ku cari semua bukti –bukti  yang berhubungan dengan kematian papa. Mencari tau sebab kematian papa apakah dibunuh atau semacamnya. Ku mulai telusuri setiap ruang dan sudut dirumahku. Menemukan apa yang ku cari dengan ilmu yang ku pelajari selama 4 tahun ini. Namun sejauh ini aku tidak menemukan bukti apapun. Tanpa lelah aku terus mencari aku mulai memeriksa kamar papa namun disana juga tidak ada, aku menuju kamar mandi dan disana aku menemukan sebuah botol dan suntikan. Aku sempat bingung dengan hal itu mengapa hal semacam itu bisa berada dsini. Dengan hati-hati aku mengambilnya. Namun aku sempat teringat dengan botol obat yang aku temukan dikamar kak Miko yang sama persis seperti yang aku temukan dikamar mandi. Rasa curgaku muncul. Untuk memastikan aku lansung memeriksa kembali kamar kak Miko melihat botol obat yang aku lihat sebelumnya. Dan begitu shocnya ternyata botol obat itu sama seperti yang aku temukan dikamar mandi. Sepontan sekujur tubuhku lemas dan tak sanggup berdiri lagi. Padahal semua itu belum tentu benar dan juga obat itu belum diketahui apa kegunaannya. Aku optimis bahwa pelakunya bukan kak Miko.
                Akhirnya untuk memastikan semuanya aku mengambil barang-barang pribadi kak Miko untuk melihat sidik jarinya. Tak sabar menungu pagi untuk melihat faktanya. Tepatnya pukul 7 pagi aku langsung kelaboratorium utuk memastiakan obat apa yang aku temukan itu. Percaya tak percaya tubuhku lansung lemas melihat hasil yang keluar. Sebuah obat yang berbaaya yang menyebabkan pengkonsumsi terkena serangan jantung. Aku menghemaskan nafasku mengingat cerita mama bahwa papa meninggal karena serangan jantung dan saat itu papa ditemukan tergeletak di kamar mandi. Hal iu diperparah bahwa sidik jari dibotol obat yang ku temukan dikamar mandi dan dikamar kak miko sama yang bukan lain sidik jari tersebut milik kak Miko. Sulit dipercaya,  mengapa semua fakta-fakta ini menyakitkan. Hal ini membuatku semakim geram dan sangat membenci semua keadaan ini.
                Dengan compang-camping aku pulang ke rumah. Kepala ku terasa pusing memikirkan semua yang terjadi. Sesampainya di rumah aku langsung berbaring mencoba merelaksasikan saraf-sarafku yang tegang. Tak beberapa lama ponselku berdering. Segera kuraih dari dalam tasku. Ternyata Arya  yang sudah dua panggilannya tak ku angkat. Segera kuangkat takutnya dia ngomel seperti waktu lalu.
                “hallo Ya ? Kenapa ?”
                “iya , tuh kan kebiasaan kamu kayak losh kontak gitu.”
                “maaf aku lagi ngak enak badan”
                “udah minum obat belum cepat gih tapi makan dulu”
                “ enggak ah malas aku tidur aja paling entar juga selesai”
                “aku mohon kamu makan minum obatnya, aku ngak ingin kamu kenapa-napa”
                “ih bawel deh udah aku istirahat dulu bay”
Aku langsung memutuskan kontak dengan Arya karena merasa kepalaku sangat sakit. Mama sempat bingung dengan reaksi yang ku tunjukan, melihat hal aneh yang aku lakukan akhir-akhir ini. Namun aku hanya meresponya dengan datar.
                setela beberapa lama akhirnya aku berhasil memejamkan mataku walaupun hanya 2 jam. Aku terbangun dan langsung berkemas-kemas. Segera ku pesan tiket pesawat menuju kota tujuanku. Aku menarik koperku dari kamar menuju ruang keluarga. Langsung ku pamitan ke mama.
 Tak berapa lama akhirnya  aku sampai dikota yang menjadi tujuanku dan langsung memanggil taxi untuk pulang kerumah. Diperjalan aku memikirkan semua tindakan yang akan aku lakukan. Karena aku tak tahan lagi menyembunyikan semua rahasia ini. Rahasia terbesar dalam keluarga ku yang sulit dipecayai. Seorang anak yang tega membunuh ayah kandungnya sendiri demi melindungi semua rahasia yang ia miliki. Aku tak sanggup lagi melindungi orang yang membuat orang yang paling aku sayang pergi. tidak ada toleransi lagi untuk hal itu.
Sesampainya dirumah aku langsung menuju ruang rahasia yang ada di kamarku . Ku raih ponsel yang ada dilaci meja, ku tekan nomor yang akan kutuju. Tak beberapa lama seseorang menjawab diseberang sana .
“hallo” ucapku
“iya ada apa kamu memerlukan sesuatu ?”
“tidak, aku mengabari bahwa aku telah menyelesaikan misi ini. Otak dari pelaku perdagangan narkoba tersebut telah aku temukan dan tersangka juga melekukan tindakan kriminal lain yaitu pembunuhan berencana .”
“oke laporan saya terima, misi pertamamu berhasil. Kasus ini akan segera dilaporkan kekepolisian.
“ya segera ku kirim nama dan alamatnya melalu e-mail.
Segera aku memutuskan kontak setelah itu. Badan lemas denagn kakiku yang gemer melihat tindakan yang barusan aku lakukan. Tapi aku tak terima dengan tindakan yanga sangat keterlaluan yang dilakukan kak Miko pada papa. Aku mencoba menenangkan diri mencoba menjernihkan pikiranku bahwa tindakan yang aku lakukan  itu benar. Sampai beberapa hari berita tentang penangkapan kak Miko mulai disiarkan entah di tv media cetak dan internet. Sebelumnya aku telah menduga hal ini akan terjadi. Pasti mama sangat shoc mendengar semua berita buruk ini. Entalah apa yang harus ku katakan pada mama. Tak berapa lama Arya menelponku.
“hallo Angal, aku mendengar berita tentang penangkapan pengedar narkoba itu. Apa mungkin misi kamu berhasil.
“iya seprti itu”
“selamat ya kamu memang hebat”
“ngak sehebat itu kok, kamu juga ikut membantuku bukan. Namun  aku menemmukan fakta yang sulit untuk diterima ternyata orang itu adalah kak kandungku sendiri.”
“apa!!! aku sangat syok mendengar kata-katamu. Tapi, mungkin ini jalan yang ia pilih, kamu tenang semua ini bukan salahmu.”
“ya aku berusaha menanamkan hal itu dikepalaku. Sudah aku tutup ya . Bay”
               Langsung kututup telpon sambil mencari kata yang pas yang akan ku kataka pada mama mengenai penangkapan kak Miko. Karena takut terjadi sesuatu pada mama akhirnya aku memutuskan untuk kembali lagi ke Jakarta. Walaupun aku rasa tubuh ini rasanya sudah remuk sebab  akhir-akhir ini aku kurang istirahat. Tanpa sepengetahuan siapapun aku kembali lagi ke Jakarta.
                Di perjalana tak henti- hentinya aku memikirkan semua yang akan ku katakan pada mama . Sesampinya aku di Jakarta aku langsung memesan taxi dan pulang kerumah. Tak sampai 20 menit aku sampai di rumah. Suasana rumah sangatlah sepi sama seperti saat ku tinggalkan beberapa hari lalu. Kukuatkan langkahku menuju pintu masuk rumah, dengan jantung yang berdebar- debar ku dorong pintu dengan hati-hati. Disana kulihat seorang wanita tua yang asyik menonton tv tanpa menyadari kedatanganku.
            “assalamualaikum” ucapku sedikt ragu
           “walaikumsalam” ucapnya sedikit kaget .
              “mama “ ucapku sedikit terseyum
               “Astagfirullah Angal kamu kok sudah balik lagi to nak baru 2 hari lalu kamu pergi ke Bandung sekarang sudah balik lagi apa ngak capek?”
              “ ih mama ngak boleh ya kalok anaknya sering –sering datang”
               “bukan begitu nak tapikan jarak kamu kerja dengan ini agak jauh jadi mama takut kamu kenapa-napa. Ya sudah kamu masuk istirahat sana.
Aku pun masuk tapi aku tak langsung menuju kamarku. Aku duduk diruang keluarga. Mama sempat menyuruhku beristirahan dulu namun tak ku hiraukan. Rasanya aku tak tenang sebelum aku mengatakan semua yang terjadi. Dengan hati-hai aku memulai pembicaraan.
                “ ma? mama sudah dengar belum berita………” Aku tidak melanjutkan kata-kataku
                “berita tentang penangkapan Miko?” Ucapnya langsung menyambung kata-kataku
                “iy…a  mama ngak sedih ?”
                 “hah !!!!!” Ucapnya terseyum
                 “ mama kok sepertinya bahagia sekali kak Miko kan anak kandung mama bagaimana mungkin mama ngak sedih sama sekali mendengar berita buruk tentang kak Miko.
                 “dia bukan anak mama dan bukan anak siapa-siapa”. ucapnya ketus
Mendengar kata-kata itu aku sangat shoc entah yang dikatakan mama itu benar atau ungkapan rasa kecewannya terhadap kak Miko. Entah lah yang jelas untuk beberapa menit aku tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
                “ma, walaupun kak miko melakukan kesalahan tapi kak Miko tetap anak mama.
                “bukan !!!, bajingan itu  bukan anak kami. Ia hanya oarang yang tak tau malu yang berlindung dibawah nama kami untuk menutupi semua kejahatannya. Sampai ia tega membunuh orang yang melindunginya selama ini. Tentu mama sangat bahagia dengan berita itu hidup ini akan menjadi tenang karena kepergiannya, dan tak ada lagi ancaman- ancaman yang ia akan katakan lagi. Dan mengenai pekerjanmu mama sudah mengetahuinya. Walaupun mama sedikit kecewa dengan keputusan yang kamu ambil tapi inilah hidup  banyak teka- teki yang harus terjawab dan mungkin dengan pekerjaanmu ini membuat kamu bahagia dan  mama tidak akan melarangmu lagi.
Jujur aku hampir pingsan mendengar kata-kata mama  barusan. Bukan mengenai kekecewaanya pada ku tapi mengenai fakta bahwa kak Miko bukan lah kakak kandungku melainkan penjahat yang selalu menteror dan mengancam keluargaku. Sampai orang yang paling aku cintai itu menjadi korbanya. Sungguh sulit dipercaya dan dicerna rahasia selama belasan tahun itu akhirnya terbingkar. Aku sempat menyesali karena mama atau papa tidak memberi tahuku sebelumnya. Tapi mungkin mama takut memberi tahuku karena ancaman dari bajingan itu. Melihat  penderitaan batin yang dirasakan mama selama ini aku langsung memeluknya dan menenangkannya.
                Setelah lama berbincang-bincang dengan mama aku merasakan mataku yang sudah tak sanggup lagi terbuka karena begitu ngantuknya. Menyadari hal itu mama langsung menyuruhku untuk tidur dikamar. Selama beberapa jam aku berhasil memjamkan mataku. Rasanya hatiku sangat tenang karena telah membongkar rahasia yang begitu besar dalam keluargaku yang sangat takut untuk diungkapkan. Mulai saat itu aku sangat nyaman berada dirumah  bercanda dengan mama dan rasanya ngan kembali lagi kekota itu.
 Sambil menikmati matahari sore aku duduk diteras rumah. Tak terasa sudah satu minggu aku berada di Jakarta. Entah mengapa ada sesuatu yang hilang dalam diriku. Dan ternya Arya yang sedari keberangkatanku tak pernah ku kabari sama sekali. Begitu juga ponselku tak perna kuaktifkan sama sekali . Menyadari hal itu segera ku berlari kekamarku mengambil ponselku. Setelah kuaktifkan aku sangat kaget setelah melihar 100 panggilan tak terjawab 70 pesan yang  tak pernah dibalas. Ahhh arya memang sudah gila ucapku. Setelah melihat itu aku langsung menelpon Arya untuk memberi kabar. Namun sayang ponselnya tak aktif. Jujur aku sangat kawatir dan ingin sekali mendengar suaranya. Karena merasa sedikit kesepian tanganku sedikit jail untuk menulis pm” Jakarta memang ramai namun hati ini tetap kesepian”. Hah sedikit jail
Setelah 4 jam terlewati tidak ada tanda-tanda Arya akan menelponku. Apa mungkin ia sudah lupa dengaku. Ah entahlah, aku langsung berbaring dan mencoba melelapkan mataku.
Malam telah berganti pagi. Terik matahari yang menyilaukan masuk melelu celah-celah jendela. Hal itu sanggup membuatku terbangun.
 “hah pagi yang indah” ucapku.
 Hal pertama kali kulihat adalah ponselku. Namun sangat mengecewakan tidak ada telepon masuk ataupun pesan dari Arya. Mungkin dia menghilang. Segera kuberanjak dari tempat tidurku dan langsung mandi. Setelah 30 menit berlalu aku telah selsai mandi dan berganti pakain. Aku pun langsung menuju kemeja makan. Disana telah tersedia makan faforitku yang sengaja mama masakkan untukku. Tapi tiba-tiba sura bel rumah terdengar.
 “ ma sepertinya ada tamu”
 “ iya siapa ya ? Kok pagi-pagi sekali”
 “emmmmm entahlah, biar Angal yang bukakan pintu.
Aku langsung meninggalkan meja makan dan membuka pintu. Dan sreeeet pintu terbuka. Aku sangat kaget didepanku berdiri sosok yang sangat aku kenal.
 “Arya” ucapku kegirangan
Tanpa aba-aba ia langsung memelukku.
 “kenapa kamu seperti ini lagi kau membuatku gila dengan hal ini. Kau selalu tanpa kabar dan berita aku sangat bingung mencarimu.
 “maaf”. Kata yang mampu aku katakan. Tapi bagaimana kau mengetahui aku ada di Jakarta.
 “aku melihat kata-kata yang ditulis di pm mu. Sambil membelai rambutku
 Melihat reaksi Arya yang seperti itu terhadapku mama langsung menghampiri arya dan langsung memukulnya. Menyadari hal itu terjadi aku langsung menjelaskan semua yang terjadi. Namun sepertinya mama tidak mengerti dengan apa yang aku jelaskan dan terjadi kesalah pahaman. Berbagai ocehan mama keluarkan pada Arya dan mengira Arya telah melakukan hal yang aneh-aneh terhadapku . Mama meminta pertanggung jawaban agar Arya menikahiku padahal tidak terjadi apa-apa. Sungguh hal yang aneh mama tidak percaya sekali dengan apa yang aku jelaskan. Mama mengatakan aku dan Arya sudah kelewatan batas.
 Akhirnya seminggu berlalu sejak kejadiaan itu dan pada hari ini aku dan Arya akan dinikahkan karena kesalah pahaman yang tak beralasan menurutku. Akhirnya pada hari itu aku resmi menjadi milik Arya. Sama seperti acara pernikahan pada umumnya sangat meriah bersama  keluarga yang sangat bahagia denga hal ini. Jujur aku sangat bahagia dengan kesalah pahaman mama yang pada akhirnya aku dapat menikah dengan orang yang memang sangat aku sayang.
 Malam yang dinanti-nati pun tiba yaitu malam pertama. Aku sangat malu dengan hal itu begitu pula Arya yanga sangat kikuk. Tanpa ada  sepatah katapun yang menghiasi malam itu. Semua hening tanpa ada keberanian saling mengungkapkan malam itu. Setelah 2 jam berlalu Arya memulai pembicaraan. Dengan hati-hati ia merangkai kata-demi kata yang diucapkan padaku. Haha ternyata seru juga ngobrol berduan begini. Dan tiba-tiba Arya menarik tangan ku dan langsung ia lingkarkan tanganya di pinggangku, ia mulai mencondongkan wajahnya kearahku. Dengan hati yang berdebar-debar aku hanya mampu terdiam membiarkan ia menyentuhku. Dan ia langsung mencium bibirku tanpa memberikan isyarat apapun.
                Tapi tiba-tiba suara pintu terbuka yang sempat membuat suasana menjadi tegang. Dan pada saat itu aku terbangun dan hah !!! semua itu hanya mimipi. Mama membangunkanku sambil tertawa karena mendengar kata-kata yang ngelantur dari mulutku sewaktu tidur tadi.
“Dinda Kirana, ayok cepat bangun nanti telat lagi pergi sekolah. Anak ini SMP sama SMA ngak mau berubah pasti aja telat bangun” ucap mama sedikit geram padaku.
“aku terbangun, sayang sekali itu semua hanya mimpi padahal itu romantis sekali . Ucapku sambil menuju kamar mandi untuk bersiap kesekolah. Dan menurutku itu efek aku nonoton drama korea.