Hari-Hari Kelabu…

Syukurku kepada Ilahi Rabbi yang masih memberikanku nafas hingga detik ini. Beberapa waktu yang lalu, aku mencoba mengajukan mutasi (lagi). Setahun yang lalu, aku mengajukan mutasi dengan alasan mengikuti suami. Nihil. Bahkan Bapak Kepala UPT tidak berkenan memberikan ijin. Tahun ini, aku mengajukan mutasi dengan alasan bertukar tempat tugas dengan Guru Agama yang bertugas di Ajibarang. Sungguh, dalam perkiraanku, pengajuan yang sekarang akan berhasil. Namun Allah menghendaki lain.

Aku masih disini. Masih S1. Masih jauh dari suami dan anak-anak. Aku tidak tahu, apakah pilihanku ini benar. Apakah mengikuti kemauan suami untuk terus bekerja (dengan meninggalkan anak-anak dan jauh dari suami) adalah hal yang benar. Dengan dalih untuk masa depan.

Hari-hari belakangan ini aku menjadi sering kalut. Sering sedih. Sering menangis. Aku tidak tahu, apakah tangisanku ini wajar sebagai ekspresi seorang manusia biasa yang punya keinginan tapi tidak terwujud. Ataukah tangisanku ini menjadi tambahan dosa karena sungguh berat rasanya menerima keputusan Allah. Keputusan yang notabene.nya dulu aku juga yang memintanya. Namun setelah benar-benar diberikan, justru aku “menyesalinya”.

Terkadang, aku merasa, bahwa aku menjadi korban dari ambisi suamiku yang ingin hidup mapan. Terkadang, aku merasa sangat tidak berguna. Dimana-mana, hanya menjadi beban hidup orang lain. Kapankah aku bisa menggenggam yang namanya kemandirian? Keberanian untuk mengambil keputusan? Aku bekerja, mamas bekerja. Tapi anak-anak menjadi korban. Meskipun, aku juga tidak tahu, apakah ketika anak-anak mengikuti orang tua yang penuh keraguan, mereka akan tumbuh setangguh sekarang?

Ya Alloh, ternyata sungguh berat perasaan yang harus aku bawa. Ternyata sungguh mahal harga yang harus aku bayar untuk sekedar bertemu dengan suami, anak-anak, orang tua… Orang-orang yang seharusnya menjadi pihak paling dekat dalam kehidupanku, tapi kini menjadi yang paling jauh karena keegoisanku menuruti pekerjaan.

Yaa Alloh. Aku tak tahu harus berkata apalagi. Benar, masih sangat banyak orang yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan daripada aku. Tapi bukankah manusia diberikan pilihan oleh Allah? Tidakkah bisa manusia itu memilih jalan mana yang akan ditempuhnya?

Ya alloh, berikanlah kami kekuatan dan kesabaran dalam menjalani ini semua. Aku, tidak semata-mata bermaksud secara sengaja untuk meninggalkan anak-anakku. Melepaskan tanggung jawabku. Aku, hanya berusaha mencari yang lebih baik untuk lebih baiknya anak-anakku di masa yang akan datang. Aamiin Ya Robbal ‘aalamiin…