Logos Hope 2014 – Toko Buku Terbesar Di Atas Kapal

Pada Tanggal 24 Januari – 3 Februari 2014, sebuah kapal pesiar yang bertujuan untuk misi kali ini berkesempatan merapatkan ke port di Singapura yang terletak di Vivo City atau Harbour Front dimana ini memang lokasi ferry terminal untuk sejumlah pelayaran ke Batam, Bintan, dan sekitarnya. Uniknya kapal ini diisi sejumlah orang yang berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia, dimana terdapat kira-kira 6 orang warga negara Indonesia yang juga terlibat disana. Sebelumnya Logos Hope ini bernama Doulos yang juga pernah datang ke Singapura di lokasi yang sama, namun kapal tersebut dikarenakan sudah berumur sangat tua sejak 1914 dijual dan dibeli oleh seseorang dari Singapura. Perlu dicatat kapal Titanic melakukan pelayaran pada tahun 1912, jadi bisa dibayangkan umur kapal Doulos itu.

Untuk kapal Logos Hope sendiri dibuat pada tahun 1973 dan berfungsi sama seperti Doulos dimana mereka bepergian ke beberapa tempat dengan membawa misi untuk membawa Knowledge, Help, dan juga Hope. Kalau kita masuk ke kapal disana kita bisa melihat foto-foto pekerjaan mereka di berbagai negara untuk membantu orang sakit, memberikan pengadaan air bersih dan sebagainya.

Di Singapura sendiri mereka juga mengadakan salah satu acara untuk mengadakan jamuan makan bagi sekitar 300 para pekerja migran yang tidak punya keluarga di Singapura yang berasal dari India dan Bangladesh sambil menikmati acara seperti teater dan tari-tarian dari India (Tamil dance) dan juga tarian dari South Africa dimana ini semua dipentaskan oleh sejumlah crew kapal itu sendiri. Mereka pun pulang tidak dengan tangan kosong karena sponsor memberikan bingkisan berupa makanan, vitamin, dan voucher belanja.

Perlu diketahui semua crew kapal disini adalah relawan yang tidak dibayar sekalipun seorang kaptennya. Jadi menurut cerita dari orang yang pernah menjad crew disini, setiap orang akan menerima tugas masing-masing selama 2 tahun ada yang cuci piring, urus mesin, dan lain-lain. Dikarenakan sukarelawan makan pekerjaan mereka hampir pasti tidak sesuai dengan background mereka, kecuali mereka yang memang punya latar belakang perkapalan.

Dikarenakan semua dilakukan relawan, maka tentunya kelangsungan mereka berdasarkan para sponsor dan sejumlah donasi yang bisa dialamatkan disini: https://donate.gbaships.org/
Mereka juga selalu membuka bagi siapa saja yang berminat untuk join sebagai crew dan bagi kita yang ingin mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan.

Setelah Singapura mereka berangkat ke Thailand untuk destinasi berikutnya dan mungkin perlu sekitar 2 tahun lagi untuk kembali ke Singapura.