MAMA: PAHLAWAN HIDUPKU

Kasih ibu kepada beta
Tak terkira sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Tiap kali mendengar lagu di atas, hati ini langsung teringat pada sosok wanita tangguh yang ada di rumah, yang familiar saya sebut dengan panggilan “Mama”. Orang yang paling saya sayangi di dunia. Orang yang selalu menyebut nama saya di setiap lantunan doanya. Orang yang dengan tulus memberikan kasih sayangnya yang tak terhingga tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Jika disuruh menjelaskan mengapa saya sangat menyayangi mama, rasanya ratusan bahkan ribuan lember kertas HVS tak cukup untuk menuliskannya. Bahkan jika dibuatkan sebuah sinetron mungkin akan seperti sinetron Tersanjung, yang terdiri dari 6 seri. Namun, ada 3 alasan utama mengapa saya sangat menyayangi mama:

1. Pahlawan
Perjuangan mama dalam membesarkan saya dan adik sungguh luar biasa. Itulah mengapa mama layak disebut sebagai pahlawan hidupku. Mama adalah “tulang punggung” keluarga kami. Di saat penghasilan papa sebagai sopir yang tidak menentu, mama bekerja keras agar kebutuhan hidup keluarga kami tetap terpenuhi, terutama pendidikan.
Setiap hari mama yang berprofesi sebagai buruh pabrik “banting tulang” agar saya dan adik tidak putus sekolah. Hampir setiap hari mama kerja lembur karena penghasilanya tiap bulan tidak mencukupi. Jarang sekali saya melihat mama cuti kerja. Salah satu momen yang membuat saya sedih, saat mama 2 kali melahirkan secara premature dan kedua bayi tersebut akhirnya meninggal dunia. Menurut saya penyebabnya adalah karena mama kurang istirahat. Bagaimana tidak, di saat usia kandungan sudah memasuki usia tua mama masih saja kerja lembur.

Saat masih sekolah, mama juga sangat sabar mengurus saya dan adik. Setiap hari mulai pukul 03.00 WIB mama sudah bangun. Mencuci pakaian kemudian menyiapkan sarapan untuk saya dan adik. Mama ingin sebelum berangkat sekolah saya dan adik sudah sarapan, agar konsentrasi belajar sehingga bisa menerima pelajaran dengan baik di sekolah. Di saat mayoritas teman-teman saya di kelas tidak sarapan karena belum dibuatkan oleh ibunya, mama saya tidaklah demikian.
Hingga akhirnya saya bisa menjadi Sarjana Ekonomi dari Universitas Brawijaya, lulus dengan IPK 3,52 dan berhasil menjuarai berbagai lomba tingkat nasional. Adik saya bisa mewujudkan cita-citanya menjadi koki dengan lulus dari salah satu SMK negeri berstandard nasional.

2. Motivator
Mama tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai motivator, namun tindakan mama sehari-hari secara tidak langsung telah menjadikan beliau sebagai motivator saya.
Saya sangat kagum dengan perjuangan mama dalam membesarkan saya dan adik. Selama ini, saya tidak pernah mendengar mama mengeluh. Dalam konsisi apapun mama selalu bersyukur. Hal itulah yang membuat mama menjadi wanita tangguh menjalani kehidupannya yang sangat menantang.
Begitu pula saat tahun 2008 mama ditimpa musibah. Setelah jatuh dari sepeda motor di jalan beraspal saat diboceng temannya, kepala mama saya sering sakit, tubuh mama sering lemah hingga akhirnya mama tidak bisa berjalan. Sejak saat itu mama tidak lagi bekerja, setiap hari mama hanya berbaring di tempat tidur. Karena keterbatasan biaya, kami hanya bisa mengobati secara tradisional. Namun, mama tidak pernah menyerah. Mama tetap semangat dan optimis bahwa suatu hari bisa sehat kembali. Di tahun 2010, kami sekeluarga sangat bersyukur mama kembali sehat sampai sekarang.
Oleh karena itu, tiap kali saya hampir menyerah dalam menjalani cobaan hidup, saya selalu ingat dengan perjuangan mama. Saya merasa malu sebagai seorang pria yang notabene calon kepala keluarga, jika harus menyerah dengan keadaan. Kemanapun saya pergi, di tas selalu ada foto mama dan saya ketika masih bayi. Hal itu saya lakukan agar selalu ingat mama sehingga saya selalu bersemangat menjalani cobaan hidup.

Mama dan saya ketika berusia 6 bulan

3. Pelajaran hidup
Banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan dari mama. Sebuah bekal hidup yang sangat berharga, tidak bisa digantikan dengan materi. Misalnya tentang ketaqwaan kepada Tuhan. Mama akan marah kepada saya dan adik jika kami tidak salat tepat waktu. Saat masih Sekolah Dasar, mama juga sering “mengomel” ketika saya dan adik belum bisa membaca Alquran dengan lancar. Tidak hanya menyuruh, mama juga memberi contoh kepada kami. Setiap hari mama salat berjamaah di masjid, mengaji di rumah, dan sering ikut pengajian di lingkungan tempat kami tinggal. Saya yang dulu kurang suka mengikuti ceramah agama, sekarang jadi menyukainya karena dulu sering “terpaksa” saat disuruh mama berangkat mengikuti ceramah agama di masjid.
Sopan santun merupakan salah satu hal paling kuat yang ditanamkan oleh mama kepada saya dan adik. Mama mengajarkan bagaimana kami harus menghormati orang yang lebih tua dan sesama. Bertutur kata yang baik serta bersikap sopan. Agar kami tidak pelit dengan kata, “Maaf”, “Tolong”, “Terima kasih”. Mama pula yang mengajarkan etika makan, terutama saat kami bertamu. Saya dan adik sampai hafal pesan dari mama karena terlalu sering disampaikan, “Kita boleh jadi orang tidak punya, tapi jangan sampai membuat orangtua malu hanya karena makanan”.
Melalui mama pula saya belajar tentang empati. Bagaimana di saat dalam keadaan sulit kita tetap membantu orang yang membutuhkan. Tahun 2008 merupakan cobaan terberat dalam keluarga kami. Mama saya tidak bisa berjalan hingga tidak bekerja, penghasilan papa sebagai sopir tidak menentu, sementara saya dan adik masih membutuhkan biaya untuk pendidikan. Saya masih duduk di semester IV sedangkan adik saya butuh banyak biaya karena duduk di kelas II SMK. Saat itu, kami “menampung” salah seorang teman adik saya di rumah karena adanya hubungan yang tidak harmonis antara teman adik saya tersebut dengan ayah dan ibu tirinya. Saat itu dalam hati saya hanya membatin, “Untuk sehari-hari saja susah, kok sekarang justru menambah beban”. Namun mama selalu menasehati kami, jika kita membantu orang lain maka Tuhan juga akan membantu setiap masalah kita.

Sejak kecil, saya sering berkomunikasi dengan mama. Tidak hanya tentang pelajaran sekolah, juga tentang permasalahan-permasalahan yang saya hadapi. Salah satu kehebatan mama yaitu beliau tidak hanya bisa menjadi orangtua, namun juga bisa menempatkan dirinya sebagai “sahabat” bagi anak-anaknya. Karena itu, saya tidak segan jika berbagi cerita tentang masalah pribadi ke mama.
Begitu pula saat saya harus meninggalkan rumah karena kuliah di Malang dan saat ini bekerja di Jakarta. Jarak tidak menjadi hambatan bagi kami untuk terus berkomunikasi. Hampir setiap hari saya menghubungi mama lewat handphone.
Namun, akhir-akhir ini komunikasi tersebut sering terganggu. Karena handphone yang digunakan mama merupakan handphone “jadul” yang harganya 200-ribuan. Saat saya telepon sering tiba-tiba terputus karena baterainya drop. Ingin sekali membelikan beliau smartphone baru agar komunikasi saya dengan mama bisa berjalan dengan lancar. Dan kami bisa berbagi momen-momen menarik lewat foto. Karena itu, menurut saya hadiah yang paling cocok untuk mama saat ini adalah http://www.elevenia.co.id/ctg-mobile-phone.
Setiap orang pasti mempunyai “pahlawan” dalam hidupnya. Keberadaan pahlawan tersebut sangat berarti karena menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan kita. Mama adalah pahlawan dalam hidup saya. Perjuangan beliau sungguh luar biasa hingga saya bisa menjadi Sarjana Ekonomi di salah satu universitas bergengsi di Indonesia. Melalui beliau pula banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan. Saya belajar tentang perjuangan hidup, saya belajar tentang ketaqwaan kepada Tuhan serta sopan santun dan etika kepada sesama. Sebagai anak sudah seharusnya saya berbakti kepada beliau, berbakti kepada pahlawan yang telah berjuang habis-habisan untuk kesuksesan hidup saya.

Satu-satunya cinta yang sungguh aku percaya adalah cinta seorang ibu kepada
anak-anaknya