MATERI UKG 2015 “MEMAHAMI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN KEBUTUHAN KHUSUS”


Abstrak

Secara rasional bahwa pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, berkaitan dengan pernyataan tersbut maka asesmen penting dilakukan oleh guru, karena mengetahui kemampuan, hambatan maupun kebutuhan Peserta Didik tidak cukup hanya hasil dari pengamatan saja, tetapi harus dicari dan ditemukan akar permasalahan yang sebenarnya secara komprehensif. Semua siswa memiliki hak untuk belajar dan memperoleh pendidikan yang berkualitas tanpa memandang perbedaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, atau kondisi lainnya, termasuk siswa berbakat, dan siswa yang mengalami gangguan kecerdasan. Hal ini sesuai dengan yang ditetapkan dalam Konvensi Hak Anak yang telah ditanda tangani oleh hampir semua negara di dunia. Setiap guru diharapkan memiliki pemahaman yang baik tentang keberagaman kondisi peserta didik agar dapat memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan keunikan peserta didik. Mengajar siswa dengan keberagaman latar belakang merupakan sebuah tantangan. Kondisi tersebut mendorong guru untuk terus-menerus belajar memahami siswa melalui pengamatan, berbagi pengalaman, membaca buku, dan menggali berbagai informasi dari berbagai sumber.

Kata Kunci: Karakteristik, Peserta didik, Anak berkebutuhan Khusus


A.    KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.
Menurut Erikson perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya terjadi di sekolah.

Sedang menurut Thornburg (1984) anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan kebenarannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah kepada yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas empat, memilki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan.

Menurut Piaget ada lima faktor yang menunjang perkembangan intelektual yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience), penyalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses pengaturan sendiri (self-regulation ) Erikson mengatakan bahwa anak usia sekolah dasar tertarik terhadap pencapaian hasil belajar.

Belajar berkaitan dengan kognitif dan kecerdasan. Kognitif adalah suatu kemampuan yang unik dari individu mengenai pengetahuan yang bersumber dari pengalaman, yang dapat disajikan kembali (Recall) ketika dibutuhkan untuk menjawab tantangan lingkungan, sesuai dengan pendapat para ahli, diantaranya pendapat Jean Piaget (1954), Piaget menyatakan bahwa ketika seorang anak mulai membangun pemahamannya tentang dunia, otak yang berkembangan membentuk Skema kemudian proses-proses berikutnya meliputi asimilasi, akomodasi, organisasi, keseimbangan dan penyeimbangan.

Skema dalam teori Piaget, aksi atau representasi mental yang mengorganisasikan pengetahuan. Skema-skema bayi disusun oleh tindakan-tindakan sederhana yang diterapkan pada objek-objek tertentu seperti menyusu, melihat dan menggenggam.
Proses penting yang kedua adalah asimilasi, asimilasi menurut Piaget adalah penggabungan informasi baru ke dalam pengetahuan yang ada. Bayi-bayi yang baru lahir secara refleks akan mengisap setiap benda yang menyentuh bibir mereka; mereka mengasimilasi semua benda ke dalam skema menyusu mereka, sedangkan akomodasi adalah pembentukan skema agar sesuai dengan informasi dan pengalaman baru, dengan mengisap objek-objek yang berbeda mereka mempelajarai hal-hal seperti rasa, tekstur dan bentuk, maka setelah memiliki pengalaman beberapa bulan, mereka membentuk pemahaman yang berbeda terhadap dunia. Untuk lebih jelasnya lagi pemaparan di atas dapat dilihat dalam bentuk peta konsep di bawah ini,

http://www.lpmpjabar.go.id/images/Artikel_Pendidikan/memet1.jpg
Perkembangan kognitif Piaget membagi kedalam empat tahapan, yaitu tahapan Sensorimotor 0 – 2 tahun, Praoperasional 2 – 7 tahun, Operasional Konkret 7 – 11 tahun dan operasional formal 11 tahun hingga masa dewasa. Semua tahapan perkembangan kognitif di atas sangat penting untuk diketahui, namun dalam assesmen ini akan berfokus kepada usia sekolah dasar (SD), yaitu tahapan Opersonal Konkret usia 7 sampai dengan 11 tahun untuk mengumpulkan informasi mengenai kemampuan, hambatan dan kebutuhan anak dalam perkebemangan kognitifnya.

1.    Karakteristik Umum Usia Anak Sekolah Dasar
Perkembangan adalah suatu kemajuan atau pergeseran kondisi yang dapat dilihat secara faktual maupun yang bisa dilihat dari dampak yang ditimbulkan dari pengaruh perkembangan itu sendiri baik perkembangan secara kuantitatif yaitu pertumbuhan fisikly, maupun perkembangan secara kualitatif yang ditandai dengan kemampuan secara mental.
Banyak pernyataan dari para ahli mengenai perkembangan, diantaranya pendapat Syamsu Yusuf (2002:15) menyatakan bahwa
”perkembangan adalah perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturition) yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah).”
Kemudian Jean Piaget, dalam buku perkembangan anak dan remaja yang disusun oleh Syamsu Yusuf (2002 : 4)
”Perkembangan manusia dapat digambarkan dalam konsep fungsi dan struktur. Konsep Fungsi merupakan mekanisme biologis bawaan yang sama bagi setiap orang atau kecenderungan biologis untuk mengorganisasikan pengetahuan ke dalam struktur kognisi. Sementara struktur merupakan interelasi (saling berkaitan) sistem pengetahuan yang mendasari dan membimbing tingkah-laku inteligensi”

Perkembangan dibagi menjadi beberapa aspek seperti: (a) Perkembangan Fisik Motorik; (b) Perkembangan Kognitif; (c) Perkembangan Emosi-Sosial; (d) Perkembangan Bahasa; dan (e) Perkembangan Etika-Moral

a.    Perkembangan Intelektual
Pada usia dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti membaca, menulis, dan menghitung).

Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak,maka sekolah dalam hal ini guru seyogyanya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pertanyaan, memberikan komentar atau pendapat tentang materi pelajaran yang dibacanya atau dijelaskan oleh guru, membuat karangan, menyusun laporan.
b.    Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata ,kalimat, bunyi, lambang, gambar, atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.

Terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan bahasa yaitu :
1)    Proses jadi matang dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ-organ suara/bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata.
2)    Proses belajar, yang berarti bahwa anak yang telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan mengimitasi atau meniru ucapan/kata-kata yang didengarnya. Kedua proses ini berlangsung sejak masa bayi dan kanak-kanak

Dengan dibekali pelajaran bahasa di sekolah, diharapkan peserta didik dapat menguasai dan mempergunakannya sebagai alat untuk :
1)    Berkomunikasi dengan orang lain
2)    Menyatakan isi hatinya
3)    Memahami keterampilan mengolah informasi yang diterimanya
4)    Berpikir (menyatakan gagasan atau pendapat)
5)    Mengambangkan kepribadiannya seperti menyatakan sikap dan keyakinannya.
c.    Perkembangan Sosial
Pada usia ini anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain).

Berkat perkembangan sosial anak dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik maupun tugas yang membutuhkan pikiran. Hal ini dilakukan agar peserta didik belajar tentang sikap dan kebiasaan dalam bekerja sama, saling menghormati dan betanggung jawab.
d.    Perkembangan Emosi
Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam mengendalikan emosinya emosinya sangatlah berpengaruh pada anak.

Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Memgingat hal tersebut, maka guru hendaknya mempunyai kepedulian untuk menciptakan situasi belajar yang menyenangkan atau kondusif bagi terciptanya proses belajar mengajar yang efektif. Upaya yang dilakukan antara lain :
1)    Mengembangkan iklim kelas yang bebas dari ketegangan
2)    Memperlakukan peserta didik sebagai individu yang mempunyai harga diri
3)    Memberikan nilai secara objektif
4)    Menghargai hasil karya peserta didik

e.    Perkembangan Etika/Moral
Anak mulai mengenal konsep moral pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada mulanya, mungkin anak tidak mengerti konsep moral ini, tapi lambat laun anak akan memahaminya. Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti peraturan atau tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Di samping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk.

f.    Perkembangan Penghayatan Keagamaan
Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaannya ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut
Sikap keagamaan bersifat reseptif disertai dengan pengertian
1)    Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara asional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.
2)    Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral.
3)    Periode usia sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama sebagai kelanjutan periode sebelumnya.

g.    Perkembangan Motorik
Seiring dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang maka perkembangan motorik anak sudah terkoordinasi dengan baik

Sesuai dengan perkembangan fisik (motorik) maka di kelas-kelas permulaan sangat tepat diajarkan :
1)    Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar
2)    Keterampilan dalam mempergunakan alat-alat olahraga
3)    Gerakan-gerakan untuk meloncat, berlari, berenang, dsb.

Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan, ketertiban dan kedisiplinan.

B.    HAMBATAN PERKEMBANGAN USIA ANAK SEKOLAH DASAR
Karakteristik peserta didik yang muncul dilihat dari empat aspek penyebab hambatannya, yaitu:
a.    Hambatan Aspek Fisik
1)    Fisio (Fungsi)
a)    Fungsi Penglihatan
b)    Fungsi Pendengaran
c)    Fungsi Gerak;

  • Tremor,
  • Kelayuan/kekuatan
  • Keseimbangan
2)    Fisik (Impairment/kerusakan)
a)    Kerusakan organ penglihatan
b)    Kerusakan organ pendengaran
c)    Kerusakan organ gerak
b.    Hambatan Aspek Sikap
1)    Attention Deficit Disorder (ADD)
ADD diartikan sebagai hambatan pemusatan perhatian, karakteristik yang muncul adalah mudah beralihnya perhatian dari objek satu ke objek yang lainnya, karakteristik ini kadang-kadang dapat menarik diri karena tidak dapat menyesuaikan dengan objek secara konsentrasi, tetapi ADHD adalah sebaliknya.
2)    Attention Deficit Hiperaktif Disorder (ADHD)
Gangguan pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (yang selanjutnya akan disebut ADHD), adalah pola tetap tidak adanya konsentrasi dan/atau hiperaktivitas dan impulsivitas yang lebih sering dan lebih parah dari umumnya anak pada usia perkembangan tertentu. Biasanya gangguan yang  termasuk ke dalam eksternalisasi ini mulai tampak sejak bayi, kanak-kanak, atau remaja, dan lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.

c.    Hambatan Aspek Kecerdasan
Dilihat dari teori normalitas dengan menggunakan kurva normal aspek kecerdasan dibagi menjadi tiga aspek, di bawah normal, normal, dan di atas normal, yaitu:
1)    Kecepatan berpikir tinggi
2)    Slow Leaner
3)    Hambatan Perkembangan Kecerdasan

d.    Hambatan Aspek Jender
Kesetaraan Jender adalah kesamaan hak, kewajiban, dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan.
1)    Laki-aki
Karakteristik yang muncul pada anak laki-laki adalah fisiknya merasa lebih kuat, sikapnya keras, dan lain-lain.
2)    Perempuan
Karakteristik anak perempuan lebih cenderung bersikap lembut dianggap lemah oleh laki-laki. Dari perbedaan karakteristik di atas maka kegiatan di sekolah lebih cenderung di dominasi oleh anak laki-laki

Perbedaan perilaku individu tergantung pada latar belakanggya, mengapa muncul karakteristik yang berbeda-beda. Latar belakang penyebabnya dibagi menjadi dua bagian, baik penyebab instrinsik karena bawaan sebelum dan ketika lahir, sedangkan penyebab ekstrinsik adalah setelah lahir, dan lingkungan sangat kuat mempengaruhi hambatan maupun potensi perkembangan. Dalam melihat potensi dan permasalahan karakteristik yang muncul dalam perilaku peserta didik perlu melakukan Asesmen, dan kemudian dalam tindak lanjutnya adalah dilakukan intervensi.

C.    TREATMENT/PENANGANAN
Langkah-langkah kegiatan dalam penanganan hambatan belajar maka harus melakukan:
a.    Identifikasi
Identifikasi adalah proses awal untuk melihat karakteristik yang nampak secara kasat mata yang ditimbulkan dari hambatan fisik, perilaku, kecerdasan, dan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, seperti berapa orang anak yang mengalami hambatan perkembangan fisik, berapa orang anak yang mengalami hambatan perkembangan sikap, berapa orang anak yang mengalami hambatan perkembangan  kecerdasan, dan berapa orang anak yang mengalami hambatan belajar diakibatkan dari perbedaan jender.
b.    Asesmen
Assesmen adalah suatu proses yang dilakukan secara sistematis dalam mengumpulkan infomasi mengenai kemampuan, hambatan maupun kebutuhan anak sebagai dasar penyusunan program intervensi atau pembelajaran,

Secara rasional bahwa pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, berkaitan dengan pernyataan tersbut maka assesmen penting dilakukan oleh guru, karena mengetahui kemampuan, hambatan maupun kebutuhan anak tidak cukup hanya hasil dari pengamatan saja, tetapi harus dicari dan ditemukan akar permasalahan yang sebenarnya secara komprehensif.
c.    Intervensi
Intervensi yang dapat dilakukan secara umum di sekolah dasar adalah memberikan aksesibilitas, baik akses fisik, sikap, kecerdasan, dan jender. Sedangkan intervensi aksesibiilitas secara khusus diantaranya adalah:
1)    Penempatan Duduk Peserta Didik
Ada jargon bahwa “tempat duduk menentukan prestasi”. Dalam hal ini sangatlah tepat ketika anak mengalami hambatan penglihatan, hambatan pendengaran, fostur tubuh yang pendek maka ditempatkan duduk di depan, hambatan sikap yang hiper aktif berikan tanggung jawab seperti menjadi ketua kelas, atau ketua kelompok, agar tidak menjadi hambatan belajar, berikan tugas tambahan pengayaan dan pendalaman materi bagi anak yang kecerdasannya tinggi.
2)    Intervensi Hambatan Perkembangan khusus
Proses pembelajaran semasih dapat diikuti oleh anak yang mengalami hambatan perkembangan maka dapat dilaksanakan secara klasikal inklusive dengan peserta didik lainnya, tetapi jika hambatan yang diakibatkan oleh  hambatan khusus yang tidak dapat diikuti, maka:
a)    Mendatangkan guru kunjung ke sekolah dari Resouce Centre untuk menangani hambatan khususnya
b)    Mendatangkan guru konsultan ke sekolah dari Resouce Centre untuk memberikan arahan kepada guru kelas
c)    Rekomendasi.

  • Psikolog
  • Terafis
  • Resouce Centre

KRITERIA DIAGNOSTIK
GANGGUANG PEMUSATAN PERHATIAN / HYPERAKTIF
GPPH
(DSM IV 1994)

A.    Salah satu dari (1) atau (2) kriteria tersebut di bawah:
(1)    Enam (atau lebih) gejala inatensi berikut telah berlangsung 6 bulan atau lebih pada tingkat sampai mengganggu penyesuaian diri dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan.
Inatensi (tidak memusatkan perhatian, tidak menyimak)

http://www.lpmpjabar.go.id/images/Artikel_Pendidikan/memet2.jpg

(2)    Enam (atau lebih) gejala hiperaktivitas-impulsivitas berikut telah berlangsung sekurangnya 6 bulan pada taraf mengganggu penyesuaian dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.

http://www.lpmpjabar.go.id/images/Artikel_Pendidikan/memet3.jpg

B.   Klasifikasi
1.    Gangguan defisit atensi/hiperaktivitas, jenis kombinasi; bila kriteria A1 dan A2 dipenuhi selama 6 bulan terakhir
2.    Gangguan defisit atensi/hiperaktivitas terutama jenis inatentif. Jika kriteria A1 dipenuhi tetapi kriteria A2 tidak dipenuhi selama 6 bulan terakhir.
3.    Gangguan defisit atensi/hiperaktivitas, terutama jenis hiperaktif-impulsif. Jika kriteria A2 dipenuhi namun kriteria A1 tidak dipenuhi selama 6 bulan terakhir

C.   Kesimpulan
Setelah melakukan diagnosis atau observasi langsung maupun wawancara dengan guru kelasnya, karena harus melihat minimal 6 bulan yang lalu, yang hasilnya terpenuhinya 7 point kriteria A1 dan 3 point di kriteria A2, maka diindikasikan atau kecenderungan Subjek penelitian mengalami Inatensi atau gangguan pemusatan perhatian yang tidak disertai hiperaktivitas.(klasifikasi poin 2)