Politik Transfer BVB Dortmund: Antara Ambisi, Realita dan Kebajikan Uli Hoeness

bvb1Di buku terbaru saya, @coachtimo Menjawab, tertera sedikit rahasia di balik kesuksesan BVB Dortmund menjuarai Bundesliga selama dua tahun berturut turut, serta pencapaian yang sangat baik di Liga Champions (runner-up musim lalu). Disebutkan di situ bahwa statistik running game BVB sangat impresif; daya jelajah BVB secara tim rata-rata adalah 118 sampai 120 km per game. Rata-rata jumlah sprint yang dilakukan tim BVB secara keseluruhan juga wahnsinn (baca: gila) : 190 sprint per game!

Fitness pemain BVB dan kemampuan mereka untuk melakukan pressing secara kolektif adalah faktor besar di balik suksesnya klub dengan jumlah pengunjung stadion tertinggi di dunia ini.

Banyak faktor lain tentu saja ikut andil dalam kesuksesan BVB menjelma menjadi raksasa Eropa, termasuk satu faktor amat penting; politik transfer pemain.

CEO Dortmund, Hans Joachim Watzke, pernah menyatakan bahwa sebagai bagian dari transfer politic yang dianut, klub tidak akan melepas dua bintang sekaligus dalam satu musim. Bahwa BVB mau tidak mau, cepat atau lambat, harus menjual bintangnya adalah realita yang ada. Budget Dortmund cukup baik tapi hanya kelas menengah dibanding klub-klub Eropa lainnya. Di Jerman sendiri budget per musim Dortmund hanya setengah dari Bayern Muenchen. (By the way, budget Bayer Leverkusen sebagai klub ketiga terkaya Jerman hanya setengah dari Dortmund. Klub-klub lain malah lebih rendah lagi daripada ketiganya). Artinya, ada banyak klub Eropa yang berpotensi merayu para bintang BVB dengan gaji yang jauh di atas nilai gaji yang mereka terima di Dortmund. Karena kebanyakan pemain tidak mampu menolak godaan fulus sekaligus kesempatan bermain di klub dengan nama besar, eksodus tidak bisa terelakkan.

Tapi paling tidak sampai sekarang Dortmund cukup berhasil menekan laju eksodus. Musim panas lalu Robert Lewandowski, bomber timnas Polandia, yang menjadi incaran high priority banyak tim top Eropa berhasil dipertahankan. Sebuah keputusan yang mahal karena Dortmund kehilangan sekitar 40 Juta euro. Jumlah 40 juta euro didapat dari akumulasi gaji Lewandowski yang telah dinaikkan, pemasukan dari transfer yang hilang (musim depan Lewandowski ke Bayern secara gratis karena kontrak dengan Dortmund telah habis) , serta fee agent dari Lewandowski.

Mengapa Lewandowski tidak dijual saja musim panas lalu? Bukankah dengan demikian paling tidak Dortmund masih bisa mendapatkan uang untuk Lewandowski. Jawabnya adalah politik transfer BVB yang tidak menginginkan lebih dari satu bintang pergi dari Dortmund dalam satu musim. Manajemen Dortmund berharap bahwa dengan adanya Lewandowski BVB akan bisa kembali berprestasi musim ini dan melaju jauh di berbagai kompetisi terutama Liga Champions, sehingga akan ada banyak pemasukan yang bisa menutup bahkan melebihi 40 juta euro itu tadi. Sejauh ini hitung-hitungan tersebut cukup berhasil karena Dortmund berhasil mencapai babak 16 besar Liga Champions dan memiliki kans yang cukup besar untuk bisa melaju paling tidak ke babak 8 besar.

Tapi sampai kapan politik transfer Dortmund akan berhasil dijalankan? Lewandowski sudah pasti hijrah (ke pesaing terberat di Bundesliga; Bayern) musim panas depan. Sementara itu Mats Hummels, Ilkay Gundogan dan juga Marco Reus terus menjadi incaran Real Madrid, Chelsea, MU dan Barcelona. Berapa lama mereka akan bertahan? Kontrak Gundogan berakhir 2005. Gelandang 23 tahun itu sampai sekarang menolak memperpanjang kontrak. Artinya musim panas ini adalah kesempatan terakhir Dortmund mendapatkan transfer fee untuknya. Reus yang memiliki kontrak sampai 2017 namun mulai tahun 2015 berhak atasaustiegklausel (baca: hak keluar kontrak ) senilai 35 juta euro, juga menolak penghapusan austiegklauseltersebut walau ditawarkan kenaikan gaji yang signifikan.