Raja Judi Bola Indonesia

Pandawa Dadu (Sengkuni Raja Judi), Refleksi Sepakbola Indonesia


.
Dengan Sesaji Raja Soya, Pandawa membangun istana, banyak orang-orang Astina yang pindah kenegeri baru yang bernama Amarta atau Indraprasta. Rakyat makmur, pertanian maju perdagangan lancar, murah sandang murah pangan.
Prabu Duryudono serta seratus saudaranya telah datang ke Indraprasta atau Amarta. Dengan diantar Prabu Yudistira  dan Prabu Kresna, mereka berkeliling dan melihat lihat keindahan dan keajaiban Istana Indraprasta atau Amarta.
Semenjak pulang dari Amarta atau Indraprasta, Duryudono sering termenung, Ia ingin memiliki istana Amarta itu. Terlintas dalam pikiran Duryudono untuk menggempur Amarta, namun dicegah oleh Sengkuni dan berkata, “Aku tahu Yudistira itu suka bermain dadu, namun ia bermain dadu dengan jujur. Dan akulah Raja judi permainan dadu. Undanglah dia, Nanti, aku ajak dia bermain dadu dan aku bermain atas nama kakang Prabu. Pasti dia kalah denganku, maka tinggal kakang Prabu dapat memiliki apa yang diinginkan kakang Prabu.
Duryudono senang dan lega mendengar saran Sengkuni sang Raja Judi, Kemudian disuruhlah Destarata untuk mengundang Pendawa. Untuk bersilaturahmi . Kemudian Patih  Sengkuni mengundang Para Pendawa, ke Astina. Dengan alasan untuk memperat tali persaudaraan antara Keluarga Pendawa dan keluarga Kurawa.
Dengan senang hati Pendawa merasa di perhatikan saudaranya, maka hadirlah di Istana Astinapura. semua Pendawa lima. Dipestakan dan dihidangkan berbagai hidangan  bermacam makanan dan minuman, yang lezat yang belum pernah dihidangkan oleh juru masak manapun. Selesai acara bersantap dan melihat tari tarian yang memukau dan memikat, Patih Sengkuni mengajak Prabu Yudistira untuk bermain dadu.

Duryudono mempersilahkan Yudistira untuk masuk kedalam ruangan permainan dadu. Yudistira berkata, “Kakanda Prabu, sebaiknya kita main dadu tetapi tidak berjudi, karena judi itu tidak baik. Sebaiknya dihindari karena sering terjadi tipu-menipu sesama lawan”.
Setelah mendengar perkataan Yudistira, dengan tangkas Sangkuni menjawab, “Maaf paduka Prabu. jika berjudi dengan Prabu Duryudono tidak ada jeleknya, sebab kalian masih bersaudara. Apabila paduka yang menang, maka kekayaan Duryudono tidaklah hilang sia-sia. Begitu pula jika Duryudono menang, maka kekayaan paduka tidaklah hilang sia-sia karena masih berada di tangan saudara sendiri. Untuk itu, apa jeleknya jika rencana ini kita jalankan?”
Prabu Yudistira menerima tawaran Patih Sengkuni. Pada mulanya Patih Sengkuni menawarkan taruhan sekedarnya saja. Untuk menyenangkan hati Pendawa, Patih Sengkuni yang memimpin permainan, beberapa kali memberikan kemenangan kepada para Pendawa. Pendawa merasa senang. Setelah beberapa lama dan sudah terlihat terlena, maka mulailah taruhan ditingkatkan,
Hingga sampailah saatnya kemenangan kurawa diujudkan. Dengan kecurangan Sengkuni maka Pendawa kehilangan semua yang di pertaruhkan, hingga semua harta, istana sampai Negara dan  istri Prabu Yudistira  juga dipertaruhkan dalam judi tersebut. Dan seluruh saudara2nya Pandawa termasuk pula. Yang pada akhirnya, seluruhnya mengalami kekalahan.
Pendawa Lima dan Dewi Drupadi menjadi budak Kurawa, Pendawa Lima menerima hinaan yang paling hina. para Pendawa dianggap bagaikan hewan saja.  Pakaian mereka dilucuti oleh para Kurawa, hingga nyaris telanjang.
Demikian pula. Dewi Drupadi ditelanjangi oleh Dursasana. Prabu Yudistira dan adik adiknya Pendawa Lima sudah tidak  bisa berbuat apa apa.  Dewi Drupadi minta tolong pada suami dan adik adiknya, untuk menolongnya, tetapi mereka terdiam saja. Tetapi Dengan perlindungan Kresna, maka Dewi Drupadi terselamatkan dari kenistaan. Pakaian Dewi Drupadi tidak ada habis habisnya walau sudah dilucuti oleh Dursasana, yang akhirnya tak berhasil menelanjangi dewi Drupadi, hingga sampai habis tenaganya, tergeletak diatas tumpukan kain dewi Drupadi yang menggunung.
Kurawa memutuskan agar Pendawa harus pergi kehutan selama duabelas tahun dan menyamar selama satu tahun. Dan tidak boleh ketahuan para Kurawa, kalau sampai ketahuan, Pendawa harus mengulang hukuman buang tersebut.
Resi  Bisma.mendengarnya dan merasa ada ketidak adilan, maka mencabut keputusan Kurawa, dan Pendawa dipulihkan kembali haknya, sebagai raja Indraprasta dan Pendawa tidak akan menjalani hukuman apapun termasuk hukuman buang. Suyudana dan adik adiknya menjadi kecewa, semua halangan yang akan terjadi apabila Pendawa masih tinggal di Astina maupun di Indrarasta.
Namun Patih Sengkuni tidak kurang akal. Pada saat Pendawa sudah bersiap kembali ke Amarta dan sudah berpakaian kerajaan, Patih Sengkuni mengatakan bahwa Yudistira dan adik adiknya, derajadnya masih tetap budak, walaupun kini sudah berpakaian kerajaan, dan nantinya menjadi raja di Indraprasta, derajadnya masih tetap budak, kalau kemarin menjadi budak Kurawa, kini menjadi budak Drupadi.
PrabuYudistira dengan polosnya menanyakan, apa yang sebaiknya yang harus dilakukan, agar tidak ada pandangan seperti itu. Kemudian Patih Sengkuni menjawab, hanya dengan satu cara yang harus dilakukan oleh Pandawa, yaitu dengan judi lagi.
Akhirnya Prabu Yudistira melayani bermain dadu Sekali lagi. Dan akhirnya Pandawa kalah judi yang kedua kalinya. Resi Bisma tidak bisa berbuat apa apa. Akhirnya Pandawa dengan berbusana ala kadarnya meninggalkan Istana Astina, dan Amarta.
Mulailah Pendawa Lima mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, dan 1 tahun menyamar. dan tentu selama waktu itulah keangkara murkaan para Kurawa tak tertahankan lagi, berpesta pora memanjakan segala macam keinginan dan kebathilan, menyebarkan kejahatan dan menumpuk kekayaan dan penindasan dimana mana, rakyat semakin menderita.
Kepergian Pandawa dari bumi Astina dan Indra prasta, membawa duka rakyat Astina dan Indraprasta.Mereka hanya bisa mendoakan agar Para Pandawa dan Gusti Ayu Dewi Drupadi mendapatkan keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan dalam menjalankan hukuman buang, dan meng harap pula mereka bisa kembali  ke Astina pada waktu yang akan datang, dengan membawa kemenangan.
Benar apa yang di katakan Yudistira, bahwa Seharusnyalah permainan dadu atau permainan apapun termasuk Sepakbola, jangan pernah dilakukan dengan mengimplementasikan perjudian, karena Perjudian akan megakibatkan kepada kehidupan yang saling menipu dan saling menguasai diantara satu dengan yang lain dengan tipu mulsihat dan kecurangan serta kedzoliman.
Akhirnya akan terjadi kesenjangan yang sangat ekstrim, disatu pihak yang menang memperoleh kekayaan yang berlimpah, di pihak yang kalah akan menderita dan mengalami kemiskinan yang menyengsarakan yang harus di tebus dalam waktu yang lama.
Keadilan akan pasti tak ada , ketidak adilan pasti meraja lela, dan Keadilan mati serta putus ikatan tali rasa kebersamaan dan persaudaraan diantara kita sebagai satu saudara, satu bangsa, dan satu tanah air.

Maka ingat dan waspada untuk selalu menghindarinya.