Tentang cita-cita menjadi ibu yang baik.

Seseorang : “Eh cita-cita terbesar kamu apa sih?”
Me : “Hmh? Jadi ibu yang baik..”
Lalu dia tertawa terbahak-bahak menertawakan cita-cita saya.
Kejadian itu berlangsung sekitar seminggu yang lalu, pada pembicaraan ringan sebenarnya bersama beberapa orang teman disebuah tempat makan di wilayah Kuningan, Jakarta. Mungkin banyak orang yang akan berekspresi sama jika mendengar cita-cita terbesar saya yang “hanya” ingin menjadi ibu yang baik.
Perkenalkan saya, Dewi Kusumawati berumur 20 tahun berprofesi sebagai mahasiswa sekaligus karyawan sebuah kantor swasta. Ketika banyak orang dengan latar belakang seperti saya kebanyakan tertawa, saya cukup tersenyum dan benar-benar yakin akan jawaban saya ingin menjadi ibu yang baik. Kelak.
Kenapa harus mencibir cita-cita Ibu yang baik? Buat saya, cita-cita menjadi seorang ibu yang baik itu lebih susah daripada cita-cita membangun kantor antariksa di luar angkasa, diatas bulan, beratapkan genteng dan beralaskan tanah dengan atmosfir memiliki harum Bvlgari. Ya saya serius, pekerjaan yang harus diapresiasi adalah menjadi Ibu yang baik.
Mengapa harus diapresiasi? Karena menjadi ibu yang baik tidak ada sekolahnya dan untuk menjadi ibu yang baik tidak melalui ujian tertulis yang membuat kita tidak makan berhari-hari stress menjelang wawancara atau bertelinga kebal dicerca konsulen. Menjadi ibu yang baik hanya butuh pengakuan. Iya pengakuan, pengakuan dari keluarga. Dan ibu yang baik adalah pencapaian tertinggi perempuan karena untuk menjadi Ibu yang baik dibutuhkan pengakuan dari keluarga. Dan hey, itu sulit.
Ibu saya hanya lulusan SMA, tapi saya berani bilang beliau adalah Ibu yang baik. Beliau selalu memiliki waktu untuk saya, membetulkan letak selimut saya jika mulai berantakan, menyiapkan susu hangat di pagi hari dan beliaulah (selain ayah saya) yang berdiri paling tegap di waktu-waktu tersulit dalam hidup saya. Dan siapa bilang ibu saya tidak sekeren wanita yang menduduki jabatan penting di perusahaan?
Menjadi direktur di perusahaan besar? Mudah. Tapi apa artinya semua pencapaian duniawi jika anak merasa terabaikan? Jika tidak ada sapaan selamat pagi penuh cinta untuk anak-anak, jika tidak ada tangan halus yang mengajari mereka menggambar, jika tidak ada sosok ibu yang menemani anak perempuaannya membeli peralatan make up pertamanya, sosok untuk anak perempuan menceritakan pacar pertamanya, sosok untuk mereka menangis, sosok yang mereka cari ketika mendapatkan nilai baik, sosok yang mereka peluk ketika mereka jatuh dan sosok yang mereka banggakan kedepan teman-temannya karena masakannya yang enak. Itu peran seorang Ibu.
Ibu bukan hanya melahirkan tapi menemani mereka hingga nafas terakhir yang kita bisa.
Cita-cita saya masih panjang. Saya berencana lanjut sekolah, saya bercita-cita dan saya masih ingin selalu belajar. Tapi apa impian terbesar saya? Ya, hanya menjadi ibu yang baik..
Seorang ibu yang bisa dibanggakan dan dirindukan.
Menjadi ibu yang baik itu bukan berarti berdiam dirumah dan hanya melakukan pekerjaan rumah tangga. Perluas pola pikir untuk kriteria ibu yang baik.. Mereka yang stunning di luar tetapi penyayang didalam rumah. Wanita sekuat karang untuk karir tapi memiliki hati selembut kapas; terutama dirumah. Wanita yang berdiri tegap untuk pencapaian akademis tapi tidak malu menunduk untuk mengikat sepatu anak. Wanita yang tersenyum akan pencapaian karir tapi mampu bernyanyi untuk menidurkan anak. Wanita yang (suatu hari) anaknya akan menulis blogpost yang sama seperti ini, post yang ditujukan untuk ibunya akan betapa hebat ibunya. 🙂
Harmoko Travolta Pakpahan: “Emang impian kamu apa?”
Dewi Kusumawati: “Ibu yang baik. Pasti kamu ketawa deh? Emang cuma itu kok..”
Harmoko Travolta Pakpahan: “No, waw that’s cool. Jadi ibu yang baik itu susah lho..”
dia tidak tertawa, malah melihatku antusias. Now, you know why I adore him so much?