Tidak Akan Terulang

                Jika ada yang bertanya kepada kita: Apa saja yang paling berharga dalam hidupmu? Tentu sebagian besar kita akan menjawab orang tua, anak, pasangan, pekerjaan, rumah, kekayaan, dan lain sebagainya. Beberapa hari yang lalu saya bertanya kepada diri saya sendiri pertanyaan yang sama. Saya mulai menyebutkan satu persatu, dimulai dari keluarga. Suami, anak, orang tua, kakak-kakak, mertua, adik-adik ipar, rumah, sahabat, dan seterusnya. Jawaban yang sama yang selalu saya sebutkan jika pertanyaan itu diberikan kepada saya. Tetapi kali ini saya menambahkan satu hal lagi yang berharga dalam hidup saya, yaitu WAKTU. Saya menyadari Waktu sebagai sesuatu yang memang ternyata berharga dalam hidup saya ketika saya melihat sebuah foto. Foto yang diambil hampir 2 tahun lalu. Saat itu saya masih mengandung 5 bulan dan sedang bersama beberapa teman saya. Saya tersenyum melihat perut saya yang besar yang ‘isinya’ sekarang sudah berada di depan mata saya dan berusia lebih dari 1 tahun. Saya tersenyum melihat wajah anak saya yang tertidur dan membayangkan dulu dialah yang ada di perut itu. Kemudian pandangan saya mulai beralih kepada beberapa teman yang berfoto bersama saya. Saya menyadari bahwa 3 diantaranya membuat saya juga tersenyum. Ada seorang pria yang saat itu masih single, tetapi sekarang sudah memiliki satu anak yang masih bayi. Ada seorang wanita yang baru saja menikah dan sekarang sudah memiliki anak yang hampir satu tahun juga. Yang ketika, ada seorang wanita yang sudah menikah dan tidak merencanakan anak kedua, tetapi kini sudah memiliki anak kedua. Baru rasanya kemarin foto itu diambil, tetapi ternyata sudah hampir 2 tahun lalu. Waktu berlalu begitu cepat tanpa kita sadari. Lalu saya memandang wajah anak saya yang sedang tertidur lelap. Oh, betapa dia kini sudah bertambah besar. Belum lupa rasanya pengalaman melahirkan dia 1 tahun lebih yang lalu. Masih ingat saya menggendong bayi merah berbobot 3,4kg dan tinggi 52cm, tetapi kini sudah berubah menjadi anak berbobot 11 kg dan tinggi 80 cm.
                Tadi sore ketika saya memandikan anak saya, saya sempat menolong anak saya untuk duduk pada posisi yang nyaman di baskom mandinya. Sudah cukup terlihat bahwa baskom itu sudah terlalu kecil baginya untuk duduk mandi dan bermain air. Baginya, posisi yang nyaman untuk mandi adalah berdiri dan perlu baskom yang lebih besar untuk duduk bermain air. Padahal saya masih ingat saat memandikan dia di baskom ini dengan memegangnya erat-erat supaya dia tidak jatuh tenggelam. Saat itu masih cukup ruangan untuk meluruskan kakinya saat mandi. Waktu memang cepat berlalu, dan yang lebih nyata lagi adalah waktu tidak akan pernah terulang lagi. Kembali saya menantap wajah anak saya. Saya tidak akan pernah mengalami lagi saat-saat bayinya, saat-saat kecilnya, karena dia akan terus bertumbuh besar. Jadi waktu ini adalah waktu yang terbaik untuk menikmati setiap moment bersama anak saya. Saat ini dia masih bisa saya gendong, nanti sudah besar tidak mungkin saya gendong lagi. Saat ini dia masih mengoceh dengan lucunya dan hanya berucap beberapa kata, nanti dia sudah bisa berbicara dengan jelas. Betapa berharganya waktu. Betapa berharganya setiap waktu, karena waktu tidak akan pernah terulang.
                Saya kembali merenungkan waktu-waktu yang telah berlalu. Betapa saya telah banyak menyia-nyiakan waktu dan lupa bahwa waktu itu begitu berharga. Saya lupa bersyukur untuk waktu yang saya miliki. Begitu banyak kesempatan yang Tuhan beri untuk saya menikmati dan bersyukur tetapi saya melewatkannya. Sering saya merasa ingin cepat-cepat melihat anak saya sudah bisa berbicara dengan jelas, cepat-cepat melihat dia bersekolah, cepat-cepat melihat dia sudah bisa naik sepeda, dan sebagainya. Dulu waktu dia bayi, saya tidak sabar ingin cepat-cepat melihat dia bisa tengkurap. Ketika sudah bisa tengkurap, saya tidak sabar ingin cepat-cepat melihat dia bisa berguling. Ketika sudah bisa berguling, saya tidak sabar ingin cepat-cepat melihat dia bisa merangkak. Ketika sudah bisa merangkak, saya tidak sabar ingin cepat-cepat melihat dia bisa berdiri. Ketika sudah bisa bediri, saya tidak sabar ingin melihat dia bisa duduk sendiri. Ketika sudah bisa duduk sendiri, saya tidak sabar ingin melihat dia bisa berjalan. Ketika sudah bisa berjalan, saya tidak sabar ingin melihat dia  bisa berlari. Sekarang dia sudah bisa mengucapkan banyak kata-kata, tetapi saya juga tidak sabar menunggu-nunggu waktunya dia sudah bisa berbicara dan berkomunikasi dalam bahasa. Padahal mendengar dia mengucapkan kata baru sudah merupakan suatu keindahan luar biasa yang seharusnya saya nikmati.
                Terkadang saya ingin merasa cepat-cepat mencapai suatu tujuan atau suatu keinginan, tetapi saya tidak melihat bahwa proses perjalanan menuju tujuan itu juga indah dan sangat berharga untuk dinikmati dan disyukuri. Di dalam proses perjalanan itulah waktu terasa demikian berharga, karena tidak akan terulang lagi. Bagi saya, pertemuan hati saya dan suami saya, masa berpacaran, dan pernikahan kami merupakan contoh nyata dalam hal ini. Hidup bersama dengan suami saya saat ini merupakan keindahan yang luar biasa dan sangat berharga, itulah tujuan kami menikah. Hidup bersama membangun keluarga. Tetapi proses menuju hidup berkeluarga ini juga tidak kalah indahnya. Rasanya masih ingin mengulang kembali saat-saat kami jatuh cinta, saat-saat berpacaran, dan hari pernikahan kami. Saya memang selalu jatuh cinta dengan suami saya hingga sekarang, namun pertama jatuh cinta tidak terlupakan rasanya dan hari pernikahan kami tidak akan pernah terulang kembali. Saya bersyukur kami menikmati waktu-waktu itu dan mengisinya dengan saat-saat yang indah.