Tugas Paradigma Feminisme

Review Pementasan Teater Agora: Waktunya Lelaki

Fokus: Kelima Tokoh Laki-Laki dan Permasalahannya

Oleh Bernardo, 0906522905
Pandangan yang lazim dibenak masyarakat ketika mendengar topik feminisme ialah penindasan kepada perempuan. Perempuan dipandang sebagai gender yang disubordinasi dalam berbagai hal, misalnya secara politis, kultural, ketubuhan, maupun penandaan. Hal ini disebabkan oleh rezim atau ideologi Patriarkal yang mengutamakan himpunan penanda kelelakian atau maskulinitas, sehingga perempuan tidak berdaya untuk mengaktualisasi eksistensinya. Meskipun begitu, hanya sedikit orang yang tahu bahwa pada rezim Patriarkal, tidak hanya perempuan yang ditindas eksistensinya. Patriarki ternyata juga menindas para “lelaki”. Para “laki-laki” yang ditindas ini dipandang dari kacamata Patriarki bukanlah Laki-Laki sejati, yang baik dan benar, dan mereka harus membuang ke-“istimewaan”-nya demi, setidaknya, bertahan hidup, atau mengambil kuasa dalam masyarakat yang didominasi Rezim Patriarkal.
Laki-laki yang pertama, Ernest, adalah seorang suami yang mencintai istrinya, Eva, dan bertanggung jawab kepada keluarganya. Namun, ia memiliki kekurangan pada faktisitas biologisnya: Ia impoten. Singkatnya, kelelakiannya dipertanyakan ketika ia tidak mampu menjadi ayah dan memiliki anak. Eva membuka konflik ceritanya dengan ingin meninggalkan Ernest, bahwa ia sudah tidak kuat lagi selama menemani Ernest. Ernest, yang tidak sadar akan kekurangannya, bingung karena ia merasa sudah menjadi suami yang bertanggung jawab di mata masyarakat. Pada akhirnya, Eva mengkonfrontasi delusi Ernest yang merasa dirinya penuh, berteriak kepadanya, mengakui Ernest impoten.
Laki-laki yang kedua, Vito, adalah laki-laki feminim. Ia memiliki kepribadian yang suka dengan hal-hal seperti  fashion, buku komik serial cantik, medicure, dsb., dan ketika ia dituntut kelelakiannya, ia tidak bisa, dan  Vany ternyata tidak menginginkannya. Vany sudah tidak ingin Vito terus mempertahankan sifat femininnya, dan menginginkan ia menjadi seperti laki-laki pada umumnya. Ketika Vito, tidak mau, Vany menginginkan keduanya berpisah.
Laki-laki yang ketiga, Bara, adalah laki-laki yang bebas dan tidak ingin terikat oleh komitmen, tanggung jawab, atau segala macam otoritas. Ia tinggal sekamar bersama pacarnya Betsy, yang mengungkapkan konflik mereka berdua: Betsy hamil, dan Betsy memaksa Bara untuk menikahinya. Bara tidak ingin berkomitmen untuk menikah, karena ia ingin melanjutkan mimpinya menjadi Rockstar, dan komitmen-tanggung jawab tersebut. dia anggap, akan menghambat dirinya jadi Rockstar. Disini Bara dituntut untuk kembali menjadi Laki-Laki, dengan resiko meninggalkan mimpinya.
Laki-laki keempat adalah Santoso. Berbeda dengan para laki-laki sebelumnya, konfliknya tidak dibangun dengan tokoh yang merupakan pasangan cintanya, melainkan dengan anaknya yang bernama Susy. Cerita ini, menurut saya, adalah cerita yang paling eksplisit mensituasikan represi atas seorang “laki-laki” yang diidentifikasi melalui Rezim Patriarkal. Ceritanya Susi ingin memberitahu kepada ayahnya, bahwa ia ingin menikah dengan laki-laki. Santoso, seorang ayah yang berwibawa dan otoriter, tidak menginginkan Susy menikah. Susy, yang merasa bahwa ia sudah dewasa, bukan lagi putri kecil Santoso, mulai melawan ayahnya, dan, pada akhirnya, Santoso mengalah. Susy keluar dari ruangan ayahnya, ruangan tempat satu-satunya Susy bisa berbicara dengan ayahnya setelah ibunya meninggal. Di saat Santoso sendirian, Santoso mulai membangkitkan kembali kenangan-kenangan masa lalunya bertiga bersama istrinya dan anaknya. Tutur kata dan pembawaannya berbeda jauh dengan ketika ia menghadapi Susy, ia lemah-lembut, bersuara halus, dan penuh kasih sayang. Kontras tersebut sangat mencolok, bagaimana ia harus menjadi seorang Ayah yang seperti itu adanya, dan sayangnya ia seperti tidak boleh untuk menjadi ayah yang lain, ayah yang lemah-lembut dan feminin.
Laki-laki terakhir, David, yang bermonolog di pembukaan dan di sela-sela cerita laki-lakinya, sekarang diangkat pula. Ternyata selama ini ia menciptakan fiksinya sendiri di dalam kamar, ibunya masuk ke ruangannya, dan memarahinya supaya ia tidur. Rupanya, lelaki yang satu ini takut dan menuruti perempuan, gambaran ibunya.